Part V
Aku Mencintai Nazril !
Sangat Mencintainya ...
Aku tidak bisa membedakan rasa cinta dan rasa sayang. Tapi yang kutahu, setiap kali aku memikirkan tentangnya, aku sangat bahagia.
Dan aku bangga punya Nazril, aku tidak ingin kehilangannya.
Aku sudah menemukan titik kecocokan yang sangat banyak pada dirinya.
Semenjak aku dan Nazril resmi In Relationship, kami sudah mulai membicarakan langkah2 selanjutnya, mau dibawa kemana hubungan aku dan dia ?
Kami juga punya keinginan yang sama, yaitu "Menikah".
Umurku 23 tahun, dan umur Nazril 27 saat itu.
Kurasa perpaduan yang sangat baik, perbedaan usia yang tidak terpaut terlalu banyak, hanya 4 tahun, its so perfect.
Aku juga tipe wanita yang suka pada pria yang lebih dewasa dariku, meskipun kedewasaan itu tidak bisa di ukur dari umur ya. Tapi, aku memang suka perbedaan umur dari pada sebaya atau bahkan dibawahku. Ya setiap orang kan berbeda pendapat ya. Maklumi saja hehe...
Aku dan Nazril memang sudah tidak menganggap hubungan kami itu hanya sebatas main2, melainkan kami sudah ada di tahap serius. Kami tidak ingin membuang waktu untuk hal yang tidak penting, kami ingin segera membawa hubungan kami kepada "Cinta Yang Halal".
Seringkali kami bertukar pikiran saat ada waktu untuk Quality Time meskipun hanya sebatas on phone, dikarenakan kami memang sedang Long Distance Relationship (LDR) dan akan bertemu di Bulan Desember nanti.
Dia menanyakan bagaimana dan apa yang akan ku lakukan saat nanti sudah resmi menjadi Istri nya?
Dan aku juga menanyakan hal yang sama, bagaimana dan seperti apa kelak dia saat sudah resmi menjadi suamiku?
Itu pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh waktu. Right?
Tetapi kami mencoba untuk memberikan gambaran atas pandangan masing2 dari kami.
Aku memberikan jawaban sesuai dengan ekspetasiku seperti :
- Aku akan berusaha menjadi Istri Sholeha yang akan mentaati apapun perintah suamiku, semampu yang aku bisa.
Aku akan selalu mencintai kamu, suamiku.
Aku akan berada di rumah, menyambut dengan hangat kepulanganmu dari kantor, dan berusaha menghilangkan semua rasa lelahmu dengan menyediakan Teh hangat dan sepiring kue, dengan senyum tipis kumemandangmu yang sedang menikmati hidangan yang ku suguhkan.
Aku akan menjadi pendengar yang baik saat kamu ingin bercerita bagaimana harimu berjalan, aku akan duduk diam dan menikmati setiap perkataanmu.
Aku akan memasang alarm di sepertiga malam, untuk membangunkan kita dari nyenyaknya tidur, dan segera Wudhu untuk melaksanakan Sholat Tahajjud, berdua denganmu, menghadap-Nya. Meminta pada Rabbi, Sang Maha Pemberi, agar aku senantiasa dibersamakan denganmu sehidup sesurga, karena aku sungguh tak ingin jauh darimu, apapun alasannya.
Aku akan memasang alarm di sepertiga malam, untuk membangunkan kita dari nyenyaknya tidur, dan segera Wudhu untuk melaksanakan Sholat Tahajjud, berdua denganmu, menghadap-Nya. Meminta pada Rabbi, Sang Maha Pemberi, agar aku senantiasa dibersamakan denganmu sehidup sesurga, karena aku sungguh tak ingin jauh darimu, apapun alasannya.
Aku akan bangun pagi untuk setiap harinya demi menyediakan makanan kesukaanmu, mengantarmu kedepan pintu ketika kamu hendak mencari rejeki untuk keluarga kecil kita, dan berdoa agar kamu, suamiku senantiasa diberikan rejeki yang berlimpah dan selalu dalam lindungan Allah Swt.
Aku juga akan terus belajar untuk menjadi ibu yang baik untuk anak2mu, anak2 kita.
Setelah aku memberikan jawaban2 itu, pun dia ikut membalas dengan jawaban yang membuatku semakin yakin, bahwa kamulah takdirku.
Saat itu kamu bilang :
-Aku akan berkerja keras untuk kita, aku tidak ingin mengecewakanmu, aku tidak ingin kamu merasakan susah bersamaku.
Aku juga akan menjadi suami paling beruntung jika ku memilikimu.
Kamu ibarat paket lengkap untukku.
Kamu selalu bisa menghargaiku, aku sangat merasa terkesan dan merasa bahwa aku adalah suami beruntung.
Aku sangat tidak sabar, ketika nanti pulang kerumah, kudapati ada kamu, Istriku yang menyambutku. Membuat rasa penatku hilang seketika karena perlakuanmu.
Sangat puitis ya hehe...
Kami memang belum berjumpa pada saat itu, tapi hati kami selalu cenderung satu sama lain.
Aku merasa menjadi lebih baik setelah kenal Nazril.
Aku merasa ada dorongan kuat untuk terus memperbaiki diri.
Karena "Yang Menjaga untuk yang Terjaga".
Karena "Yang Menjaga untuk yang Terjaga".
Bukankah ini adalah energy positif?
Ya, kuharap semua harapan kami menjadi nyata dan berjalan sesuai apa yang kami doa kan. Aamiin Allahumma Aamiin...
Mama ku sudah mengenal Nazril, pun tanteku juga.
Walaupun hanya sebatas on phone.
Sebelumnya, aku jarang sekali mau berbagi cerita tentang hubunganku dengan pria pada mama ku, bahkan tidak pernah, apalagi seserius ini.
Tapi tidak pada Nazril, dia terlalu spesial untukku sehingga aku tak mampu untuk menyembunyikan perasaanku yang berkobar2 ini.
Aku bahkan tidak mengerti mengapa perasaanku semakin hari, semakin mantap padanya.
Kutanyakan pada mama, "Ma, kalau Nazril serius sama Tya, dan setelah pertemuan nanti kita sama2 cocok, gimana? Mama gimana?".
Mama diam sejenak dan bilang , " Ya di lanjut lah, kalau sudah cocok, kalian Nikah".
Hatiku deg2an saat mendengar itu, seakan mama tak canggung memberikan lampu hijau pada hubungan kami. Maa Syaa Allah ...
Ini pertama kalinya dalam hidupku membahas tentang pernikahan dan semua keluarga ikut menanggapi.
Mama : "Ya di lanjut lah, kalau sudah cocok, kalian Nikah"
Tante : "Udah, cepat aja nikahnya. Kalau sudah halal kan enak"
Oma : "Jadi gimana? Udah serius Nazril mau datang?"
Nenek : "Nenek doakan ya semoga kalian jadi Nikah"
Om : "Jangan lama2 , tunggu apalagi?"
Papa : "Iya yang penting bahagia".
Jazakumullah khairan untuk sanak saudara yang sudah memberikan respon positif dan semangat yang tiada hentinya.
Semenjak hubunganku dengan Nazril sudah mulai serius, aku memang memberanikan diri untuk membahasnya pada keluargaku, karena aku adalah cucu perempuan tertua dari kedua belah pihak, maka dari itu pernikahanku adalah pernikahan yang paling di nanti2, apalagi para sepupuku, mereka sangat ingin aku menikah agar mereka bisa menyusul (karena gak boleh melangkahi yang paling tua hehe).
Aku membahas tentang Nazril secara terbuka, awalnya aku hanya membicarakan ini pada Mama dan Tanteku, tapi lama kelamaan satu per satu keluarga inti pun mulai mengetahui hal ini, dan mereka sangat antusias membahasnya.
Mereka tampak sangat welcome pada perbincangan hubungan antara aku dan Nazril, tetapi aku hanya banyak melemparkan senyum saja ketika ditanya "Jadi gimana?".
Karena aku yakin, sebaik2 perencana adalah Allah Subhannahu Wa Ta'ala. Aku tidak ingin mendahului kehendak Allah, aku hanya bisa memanjatkan doa untuk hubunganku dengan Nazril agar senantiasa Allah jaga dan beri Restu. Aamiin
Ada nama Nazril disetiap sujudku, tak henti2nya aku menyebut nama nya dan memohon agar Allah menjaga nya dan memberikannya kesehatan, Rejeki dan juga semangat agar terwujudnya impian kami.
Aku jatuh cinta pada dia, Nazril.
Dia pernah mengatakan padaku "Abang ingin memberikan yang terbaik buat Tya. Doakan abang ya".
Seandainya dia tau bahwa obrolanku dengan Tuhanku itu seputaran tentang dia.
Tanpa ia memintanya sekalipun.
Aku juga pernah mengatakan padanya bahwa aku ingin hidup sederhana dengannya, jangan terlalu terbebani dengan gaya hidup manusia jaman sekarang.
Aku sudah bukan bagian dari mereka, meskipun dulu aku menginginkan kemewahan disetiap langkah hidupku.
Tapi aku sudah sadar dan mengerti, aku tidak butuh itu.
Terlihat munafik? Tidak !
Aku bisa buktikan bahwa aku bisa bahagia tanpa harus bermewah2an. Tentunya aku mencari bahagiaku dengan adanya suami yang menyayangiku sepenuh hatinya dan adanya anak2 kami yang akan memperlengkap kebahagian kami, kelak.
"Bang, jangan terlalu memikirkan bagaimana bisa beli ini dan beli itu. Kita belum mampu beli rumah? Kita bisa ngontrak. Tya mau, itu gak jadi masalah". Itulah kalimat yang ku katakan padanya saat itu.
Setidaknya aku sudah membuktikan padanya bahwa aku tidak mempersulit pernikahan kami, karena menunda pernikahan hanya karena belum punya rumah sendiri dan kendaraan pribadi? Itu dosa.
Ubahlah cara berfikir, menikah itu untuk ibadah, rejeki setelah menikah itu pasti ada, jangan takut hidup susah karena kita punya Allah yang Maha Kaya.
Yang terpenting, kita harus selalu bersyukur.
Karena jika tidak, sebanyak apapun rejeki yang di limpahkan pada kita tetapi kita tidak bersyukur, maka itu tidak akan pernah membuat kita merasa cukup.
Bersyukur dan Ikhlas lah dengan apa yang di dapat pada saat itu, maka semua akan terasa nikmat.
In Syaa Allah...
Chatting dan Telpon adalah cara kami untuk saling melepas rindu, seringkali rindu datang pada saat yang tidak tepat.
Dikala ia sibuk dengan pekerjaannya, Rinduku datang.
Dikala ia sedang lelap tertidur, Rinduku semakin datang.
Ya, Aku memang selalu merindukannya. Terhitung dari sejak aku jatuh cinta pada perlakuannya yang sungguh menghormatiku sebagai wanita
Dan rindu itupun terlepas sudah ketika aku melihat handphone ku berdering, panggilan masuk dari kekasihku, Nazril.
Kuangkat telponnya dengan senyuman merekah dan hati berbunga2, seperti sedang kasmaran.
1 jam bahkan lebih kami bercerita di telpon.
Entah apa saja yang kami bahas, itu tidak penting.
Yang terpenting adalah, mendengarkan suara masing2 dari kami sebagai pelepas rindu di hati.
"Dek, abang seneng dengar suara ketawanya adek". Tiba2 Nazril bicara seperti itu.
Dan dia harus tahu bahwa aku juga senang mendengar suara tertawanya, bukan cuma itu, aku bahkan senang mendengar suara nafasnya hahaha astaga, kurasa aku ingin menertawai diriku sendiri saat itu.
Terimakasih Nazril, Terimakasih telah membuatku bahagia tanpa alasan.
Jum'at, 21 Juni 2019, 4.02 PM
Dia : semakin hari abang semakin nyaman sama adek . abang benar2 ngerasa dihargai dan kamu sosok yang bisa menghargai abang.
Terimakasih ya, udah jadiin abang selayaknya pria.
Me : MasyaAllah. Makasih juga ya bang. Tya akan jaga semuanya demi kita nanti in syaa Allah
Dia : Ya, sama2, In syaa Allah. Semangat ya. jaga kesehatan disana, ingat ya jangan telat makan.
mekasih juga ga pernah balas marah saat abang marah. selalu sabar hadapin abang yang rewel ini😂
Me : Iya. Semangat juga ya kerja nya, jangan capek2. Secepatnya tya bakalan ngurusin segala sesuatu untuk abang❤
Bukannya tya yang terlalu banyak ngambek ya? Maafin tya juga yang kadang suka buat kesel abang ya.
Kita harus bisaaa❤
Dia : Iya, In Syaa Allah❤
Hmm, kalimat penggetar hati pun kembali lagi.
Kini dengan kemasan sama dan isi yang sama, akupun merasa jatuh cinta yang sama.
Hubungan kami tak selamanya berjalan mulus dan penuh dengan kata2 romantis setiap hari.
Pun , tak kupungkiri terkadang kami bertengkar kecil2an , tapi itu adalah bumbu dalam hubungan kami.
Kurasa pertengkaran kecil itu terlalu biasa, dan pasti ada disetiap hubungan. Kunikmati alurnya, walaupun terkadang saat bertengkar, selalu saja aku yang "Baper".
Nazril yang selalu siap untuk di omelin pun akan tetap diam dikala ribuan ocehanku menyerbunya, tapi dia tidak selamanya diam, dia cenderung lebih suka "Iseng" saat aku lagi di puncak emosi .
Dia : jangan marah2 aja, makan juga biar marahnya kuat. Abang juga disini mau makan biar kuat ladeni adek 😂😂
Membaca isi pesan darinya seperti itu pun aku jadi merasa makin kesal, tapi tidak bisa berbuat apa2. Cuma bisa melanjutkan jurus seribu omelan yang akan berlanjut beberapa jam kedepan.
Melihat suasana seperti itu pun Nazril mencoba untuk menenangkanku dengan cara nya, dikala aku masih membalas chatnya dengan kalimat2 penyerangan, dia juga balas :
Ya udah istirahat dulu sana. Biar ga marah ..
Tenangin diri dulu..
Adek sayang abang kan?
Love you tyara
Jangan marah lagi ya sayang..
Abang ga macam2 di sini, abang jaga hati disini
Abang bukan bermaksud mau buat adek khawatir atau apa..
Abang ga mau buat adek marah
Abang minta maaf ya sayang kalau abang salah
Love you tyara ku sayang❤
Masih dengan keadaan kesal, kubaca pesannya, kulihat setiap kata yang dituliskannya, dan aku yang masih belum stabil hanya membalas "Tya ga bisa", di iringi dengan emoticon menangis agar mempertegas bahwa diriku sangatlah sedih saat itu. Nazril pun kembali mengirimiku pesan :
Tya percaya sama abang ya sayang
Abang disini berusaha jaga hati abang
Abang sayang tya
Tya kesayangan abang
Wanita yang abang sayang dan selalu ada di hati abang
Kalau ada sayap abang rela kesana sekarang buat buktiin ke adek.
Sayangnya abang cuma manusia biasa, yang penuh kesalahan.
Maafkan kekasihmu ini sayang❤
Udah ya, Jangan bertengkar sekarang, ga enak, jauh.
Kalau udah nikah , bertengkar ga apa2
Bisa langsung peluk dan tenangin kamu
Bayangin deh, peluk sampai pagi dan kamu sambil marah2, abang cuma lihat sambil senyum aja.
Lalu kucoba untuk membayangkan apa yang di sugestikannya padaku, dan aku rasa itu cukup menyenangkan.
Karena pelukan yang di sugestikannya adalah pelukan halal yang aku dan dia masih mendoakan agar segera terwujud secepatnya. In Syaa Allah, Aamiin..
Eh tapi, yakin mau meluk singa yang lagi marah?
Hmm, begitulah cara dia menenangkanku dikala aku sedang emosi tingkat dewa. Bahkan dia tak pernah terpancing emosi saat aku omelin, dia memang berbeda, dia selalu buat aku jatuh hati setiap harinya, dengan persentase yang bertambah pula.
Ma syaa Allah Kekasihku ...
Selesai drama pertengkaran, dia selalu menyuruhku untuk menenangkan diriku terlebih dahulu, dan lagi2 aku malu akan kejadian2 yang suasananya diperkeruh oleh tingkahku sendiri. Itu semua diluar dari kendaliku, terkadang disaat aku ingin terlihat kalem saat menghadapi masalah, saat itu pula syaithan menggodaku untuk mengeluarkan semua energy untuk terus ngomelin seseorang yang sudah mengakui kesalahannya.
Wahai diriku, teruslah belajar untuk bersabar, jangan ikuti nafsu syaithan. Astagfirullah...
Dia sudah sangat cukup memahami sifat dan karakterku, sehingga dia bisa dengan tenang menghadapiku ketika aku sedang badmood atau sedang marah.
Terimakasih Ya Allah..
Terimakasih telah menciptakan dia untukku dan mendatangkan dia dikehidupanku...
Aku sangat menyanyangi hamba mu itu Ya Rabb...
Nazril sempat bertanya padaku, siapkah aku ikut dengannya ke Sumbawa setelah kami menikah nanti?
Aku bahkan tidak ada alasan untuk menolaknya kan?
Bukankah itu sudah menjadi kewajibanku setelah resmi menjadi seorang istri?
Dengan ada atau tidaknya kegiatanku di Medan, ketika aku sudah menikah dan suamiku ingin aku ikut dengannya, maka wajib hukumnya untuk ku patuhi perintahnya.
Aku tidak akan membiarkan suamiku di Sumbawa dan aku di Medan, tidak mungkin. Cukup proses Ta'aruf ini sajalah yang memisahkan kami dengan jarak antara Medan-Sumbawa, dan ini sangat berat. Biarkanlah setelah menikah, aku mendampingi suamiku kemanapun ia pergi, izinkan aku untuk berbakti kepada suamiku, aku ingin menghabiskan sisa umurku bersama suamiku dan aku akan menikmati setiap detiknya bersama suamiku, Nazril.
Jadi, In Syaa Allah aku siap lahir dan bathin.
Suamiku adalah ladang pahala untukku, bagaimana bisa aku tidak mematuhi perintahnya?
24 Juni 2019, 08.00 AM (WIB)
Nazril menelponku, padahal semalam baru saja aku marah2 padanya dikarenakan dia yang sangat sibuk sehingga tak sempat memberiku kabar.
Tapi dia sama sekali tak menghiraukan itu, meskipun aku sudah marah padanya, tetap saja dia menelponku di pagi harinya, dengan suara khas nya yang sangat membuatku semakin merindukannya.
" Hallo, Assalamualaikum, baru bangun?".
Lalu kami bercerita, seakan masalah semalam tak ada lagi dibenakku. Aku memang seperti itu, aku akan emosi padanya tetapi tidak akan bertahan lama, aku tak sanggup berdiaman dengannya, dia hidupku, bagaimana mungkin aku diam pada sang kekasih yang sangat kucintai?
Tak banyak kata yang ku ucap pagi itu, aku hanya mendengarkan kesibukannya disana yang ntah apa itu aku tak tau, yang ku tau hanyalah , aku menikmati setiap suara hembusan nafasnya dan sesekali memanggilku "sayang" dengan nada lembutnya jika ia tak mendengarkan suaraku dibalik handphone masing2.
Meskipun hubungan kami saat itu bergantung pada signal dan pulsa, tapi aku yakin, disanapun ia sungguh sangat menantikan semuanya menjadi nyata.
Agar tak ada lagi hati yang tersiksa akan rindu yang semakin hari kian bertambah, agar tak ada lagi perasaan gundah gulana saat tak menerima kabar dalam waktu yang menurutku cukup lama dan agar tak ada lagi keraguan hati, karena saat bersamanya kelak, hidupku akan lengkap.
21 September 2019 11.00 AM (WIB)
Pertengkaran terjadi...
Sudah sekian lama kami tidak bertengkar, akhirnya pada hari itu aku melakukan hal yang semestinya tidak ku lakukan.
Bermulai dari aku memintanya untuk menelpon orangtuaku dan ia pun menyetujui nya dengan mengatakan "Oke dalam waktu 2 - 3 hari ini abang telpon ya, biar abang selesaikan kerjaan abang dulu".
Dan aku pun dengan sangat sigap menanggapi janji nya itu.
Entah aku yang terlalu serius atau dia yang memang tidak berniat untuk menelpon orangtuaku.
Sebenarnya aku tidak akan memaksa nya jika memang ini bukan hal yang cukup penting bagi hubungan kami, tetapi mungkin itu hanya menurutku saja, sedangkan menurutnya ini tidak perlu dibahas di telpon melainkan ia ingin berbicara langsung ketika sudah berada di Medan nanti. Ketika ia berjanji saat itu hanyalah karena ingin membuatku tenang saja, agar tidak mendesak terus menerus. Dan akhirnya pun dia memang tidak menelpon orangtuaku setelah kutunggu selama 3 hari sesuai dengan janjinya.
Cuma karena itu, pertengkaran pun terjadi.
Ketika ia mengirimkan pesan padaku, kubalas dengan sesingkat dan sesinis yang kubisa.
Entah itu berhasil membuatnya sadar atau tidak, yang terpenting aku sudah menunjukkan bahwa pada saat itu aku marah.
Hingga akhirnya dia menelponku sekitar jam 11 siang, ketika itu aku sedang diparkiran Mart dan langsung saja kuangkat telpon nya karena aku sudah tak sabar ingin mengeluarkan semua kekesalanku dikarenakan janji yang tak ditepatinya.
Aku bahkan tak perduli lagi dengan situasi Mart yang cukup sepi saat itu sehingga akan terdengar jelas jika aku berbicara ditelpon, biar saja mereka menganggapku aneh dan melihatku marah2 ditelpon. Aku sudah kehilangan control.
Ketika kuangkat dan kukatakan "Hallo" padanya, terdengar suara khas nya menyambut dengan hangat dan mengatakan "Hallo Assalamualaikum".
Suara itu sangat kusukai, suara itu sangat kunanti2, suara itu bahkan menjadi alasan kenapa aku selalu merindukannya, tetapi saat itu rasa kecewa dan emosiku telah mengalahkan hal lainnya, aku sudah tak bisa menahan nya.
Langsung saja ku katakan padanya "Sekarang maunya apa sih? Ditunggu untuk nelpon malah ga jadi. Sesibuk itukah? Susah kah untuk nelpon sebentar saja? Ini kan demi kebaikan hubungan kita juga", dia hanya membalas dengan perkataan "Iya maaf".
Lagi lagi aku makin kesal dan bilang "Tya ga butuh kata maaf".
Keadaan semakin keruh, aku yang benar2 emosi saat itu , ditambah lagi dengan jawabannya yang hanya permintaan maaf seperti biasanya..
Kucoba untuk diam dan menunggu apa yang akan dia katakan selanjutnya, tetapi tak kudengar sepatah kata pun darinya ..
"Udah? Diam aja?" Tanyaku..
"Abang belum siap sayang".
Dengan nada yang cukup meyakinkan ku katakan padanya "Belum siap apa bang? Apa yang perlu disiapkan lagi? Abang tinggal menelpon dan sisanya biar tya yang urus di Medan. Sudahlah, jangan kasih tya harapan terus kalau abang enggak bisa berkomitmen, tya gak bisa" jawabku..
" oh kok kayak gitu ngomongnya? Kamu ragu sama abang? " tambahnya saat itu..
Dan saat aku mau jawab, dia sudah mengatakan "sekarang terserah aja maunya gimana, TERSERAH" tegasnya dengan nada yang menurutku saat itu pertanda pertengkaran tidak akan selesai.
Aku dengan kadar emosi yang masih berkobar2 pun terpancing untuk balas dengan kalimat yang tak kalah hebat merutku "oh yaudah terserah. Gitu aja kan? Tya gak bisa kayak gini. Oke, udahya. Assalamualaikum" kututup telpon dengan cepat, karena aku tak ingin melanjutkan pertengkaran itu, aku sudah bosan, sudah muak.
Biarkan saja semuanyanya seperti itu, terbengkalai entah sampai kapan. Dengan keadaan puas dihati karena merasa sudah mengutarakan semua perasaan kecewa, akupun pergi beranjak dari Mart tsb menuju pulang kerumah.
Didalam perjalanan, masih terngiang-ngiang kalimat2 sewaktu telponan tadi, seakan semuanya begitu mudah untuk saling melontaran kata "Terserah", seperti tidak ada ujungnya dan entah bagaimana kejelasannya.
Aku bahkan tak ingin menghubunginya lagi, biarlah saja semua seperti itu, saat itu aku benar2 pasrah.
Tangisku pun melimpah ruah ketika aku menghadap Tuhanku, tak kenal lelah kupanjatkan doa2 terbaik untuk diriku dan dirinya meski hubungan kami sudah diujung perpisahan.
Nama nya tak pernah absen disetiap bait2 doaku.
Seakan tak peduli sehancur apa hatiku saat mengakhiri komunikasi kemarin, tetap saja ia yang kuminta pada Tuhanku untuk menjadi teman hidupku di Dunia dan Surga kelak.
Hari pertama bertengkar, tak kudapati ia menghubungiku, padahal biasanya ia selalu mengirimku pesan singkat walaupun kami sedang bertengkar, walau sebatas mengingatkan "Jangan lupa makan ya" .
Tapi hari itu, tak ada tanda kemunculannya di layar handphoneku.
Hari demi hari kumenunggunya , masuk hari ke 3, dengan yakin aku memandang layar handphoneku menunggu pesannya, dalam hati berkata "Pasti hari ini dia menghubungiku".
Malam berganti pagi, sebaliknya pagi berganti malam, begitu seterusnya hingga seminggu lamanya, tak kudapati kabar darinya.
Perasaan optimisku pun berubah menjadi pesimis.
Banyak sekali pikiran menerka-nerka selama aku tak komunikasi dengannya.
Seperti :
- Apa dia sudah melupakanku?
- Apa dia menganggap perkataan ku kemarin adalah kalimat perpisahan?
- Mungkin dia sudah menemukan pendamping baru disana...
- Menurutnya Sudah berakhirkah semua ini?
Semakin aku menerka-nerka, semakin kurasakan sakit dikepala, dan akhirnya aku down.
Aku menjadi tidak fokus melalukan semua aktifitasku, aku berubah menjadi orang yang sensitif dan tidak ingin diganggu siapapun.
Hingga pada akhirnya, di hari ke 9 dia tidak juga memberikan kabar kepadaku.
Saat itu Adzan Ashar berkumandang, bergegas aku mengambil Wudhu, dan aku berniat, aku akan mengirimkan pesan padanya selesai sholat Ashar.
Tetapi entah mengapa rasa di hati selalu menolak untuk mengabarinya deluan, ini bukan perkara gengsi, melainkan hanya ingin tau sampai di batas mana ia akan tahan tidak mengabariku?
Dan ternyata ia tak sedikitpun peduli dengan semua ini , simpulku saat itu. Karena ia bahkan tak mencoba untuk menghubungiku deluan.
Dan lagi2 aku yang mengalah atas segalanya, tepat dihari ke 10 kami tidak saling memberi kabar, akhirnya kutekadkan untuk mengirimkannya pesan, dengan perasaan deg2an di dada, bercampur dengan perasaan kacau yang masih tersimpan di dada, kutulis pesan yang berisikan "Abang" dan ku klik enter untuk mengirimnya. Bismillah,ucapku lirih.
Seperti biasa, ia tak langsung membalas, aku sudah tak heran jika pesanku lama mendapat respon dan balasan darinya, entah itu memang karena sibuk, atau mungkin karena I am not the only one baginya hehe
Akupun tak ingin fokus menunggu balasan pesan darinya, kuletakkan handphoneku di Meja dan aku melanjutkan kesibukanku saat itu.
Ketika aku sudah lupa akan balasan pesan darinya, seketika Handphoneku berbunyi, yang menandakan notifikasi pesan dengan nada yang ku khususkan hanya untuknya.
Berdegup detak jantungku saat kudengar suara notifikasi itu, sontak saja aku langsung berdiri mengambil handphoneku dengan cepat dan melihat isi pesan darinya.
Ketika ku buka, dan balasannya hanya "Yaa".
Hah? Yang benar sajaaaa (ucapku dengan nada sedikit kesal).
Tentu saja aku kesal, aku telah memulai mengirimkannya pesan, lalu aku hanya mendapatkan balasan "Yaa" setelah 10 hari tidak berkabar?
Kulihat status nya saat itu sedang online , buru2 aku masuk ke kamar agar aku bisa fokus mengetik pesan yang akan kubalas pada saat itu juga.
Dengan detak jantung yang masih deg2an, kubalas pesannya "Kemana aja? Online tapi ga ada kabar".
02 Oktober 2019, 9.56 AM (WIB)
Nazril : Adek yang kemana aja? Gak ada kabar setelah marah2 kemarin.
Me : Maafin tya bang. Maaf kalau udah marah2...
Nazril : Iya gpp.. abang udah maafin.
Me : Masih marah ke Tya?
Nazril : Marah? Abang gak Marah..
Me : Apa yang terjadi setelah 10 harian ga kabar2an? Udah males liat Tya?
Nazril : Ga ada apa2, biasa aja. Yang mau kaya gitu kan adek, bukan abang. Jadi abang turuti aja biar adek gak terpaksa nerima sifatnya abang.. Nah sekarang udah ngerti kan?
Me : Abang nurutin atau abang emang udah males?
Nazril : Abang gak ada kabar bukan berarti abang gak sayang sama kamu. Abang cuma kasih kamu waktu buat nemuin apa yang sebenarnya kamu cari.
Mataku mulai berkaca2, dan tanpa kusadari aku telah meneteskan air mata lagi untuk kesekian kalinya.
Aku memang tak pernah berhasil menahan tangis, lemah.
Me : Abang tau lah pastinya kenapa tya terlalu kaya gini sama abang..
Nazril : Abang tau, makanya abang diamin.
Me : Tya gak tau mau bilangnya gimana, gak bisa diungkapin, susah untuk dijelasin.
Nazril : Abang biarin adek nemuin jawaban adek sendiri. Yaudah gak usah dibahas lagi.
Me : Dengan cara abang diamin tya, disini tya merasa tidak baik2 aja bang.
Nazril : Abang kirain adek udah nemuin yang baru😃
Me : Abang udah cancel semua rencana kita kah?
Nazril : Sempat mikir gitu, soalnya gak ada kabar.
Me : Udah sempat mikir gitu? Sanggup kali ya
Nazril : Kirain adek bakalan gak ada kabar terus.
Kan adek yang negasin waktu itu. Adek bilang jangan kasih harapan.
Me : Abang udah move on?
Nazril : Nggak..
Me : Jadi sekarang gimana?
Nazril : Jalanin aja seperti awal. Abang pengen kita kaya di awal dulu, ceria. Gak bertengkar terus kayak sekarang.
Udah, jangan nyalahin abang terus. Semua yang kamu bilang itu gak ada benarnya. Abang gak kaya gitu.
Me : Perasaan abang setelah berhari2 ga ada kabar2an dengan tya gimana?
Nazril : Sempat cemas kalo bakal kehilangan kamu.
Me : Tapi abang sering ninggalin tya
Nazril : Kapan abang ninggalin adek?
Abang juga gak pernah maksa adek untuk jadi seperti yang abang mau. Abang berikan kamu kebebasan .
Me : Tya ga suka di bebasin. Dengan cara kaya gitu tya merasa gak dimiliki.
Nazril : Gak suka di bebasin? Di bebasin bukan berarti kamu bukan milik abang. Kamu abang bebasin karena abang percaya kamu tau mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang abang suka dan mana yang nggak abang suka.
Me : Tapi tya merasa kaya nya mulai ada jarak antara kita
Nazril : Berjarak apalagi? Mulai deh Nuduh lagi. Nyari masalah lagi?
Udah deh, hati abang masih sama seperti biasanya. Ga beda sayang.
Jangan ragu tentang sayang abang ke kamu.
Abang punya cara sendiri buat buktiin ke kamu.
Jangan maksain abang, abang ga suka.
Tak kubalas lagi chat terakhirnya. Aku bahkan belum bisa tenang walaupun sudah mendaptkan kabarnya...
03 oktober 2019, 8.56AM (WIB)
Nazril : Lagi ngapain? Siapa yang masuk Rumah sakit?
Sebelumnya aku sempat posting keberadaanku yang sedang berada di salah satu RS di Kota Medan.
Me : Opa yang masuk Rumah Sakit. Tya lagi nunggu hujan reda, biar bisa pulang sebentar. Soalnya opa minta dibuatin Bolu Pisang.
Nazril : Opa kenapa? Gimana keadaan opa? Ada opa disitu?
Semoga Allah lindungi opa ya.
Doain yang terbaik buat opa .
Me : Opa sakit penyempitan syaraf otak.
Iya bang In Syaa Allah..
Nazril : Adek hati2 kalau pulang nanti ya ..
Hati2 bawa motornya . Jalanan licin kalau hujan gitu, jangan nge rem mendadak. Jangan terlalu dekat dengan kendaraan lain, Jaga jarak biar aman.
Me : Iya bang.
Nazril : Kok abang?
Me : Iya yng. Maaf
Nazril : Kok yng?
Me : jadi apa dong?
Nazril : Sayang
Me : Iya Sayang
Nazril : kok sayang? Abi dong
Me : Eh beda lagi?
Nazril : Sayang aja deh, ntar kalau panggil Abi nya sekarang, pas udah nikah gak greget lagi hahaha
Ya Tuhan, aku tuh suka gemes kalo dia suka jahilin kaya gitu.
Aku sama Nazril emang suka bahas2 mau dipanggil apa pas ntar udah nikah.
Dan pilihan sementara masih panggilan "Abi & Ummi" sih, makanya kadang dia suka praktekkin manggil Ummi ke aku , tapi selalu aku bilang "Eh jangan, ntar aja pas udah nikah biar greget".
Hari2 pun berjalan seperti biasanya, aku dengan aktifitasku di Medan, dan dia dengan segudang kesibukannya di Sumbawa.
Dengan kejadian kemarin, aku sudah tidak ingin menyimpulkan suatu hal atas dasar pemikiranku sendiri.
Karena, bertengkar itu sangat tidak enak, apalagi bertengkar dengan seseorang yang sangat kucintai.
Semua terasa serba salah, lagi lagi yang korban adalah hati dan perasaan.
Aku mulai membiasakan hatiku untuk tetap tenang apapun yang terjadi.
Aku juga tidak akan spam chat padanya jika dia tidak ada kabar.
Bahasa lain nya seperti ini "Siapapun yang ingin pergi, pasti dia akan pergi. Siapapun yang ingin tetap tinggal,maka dia akan tinggal"
Akan hanya lelah yang kudapat jika terus2an aku memaksakan sesuatu yang dia pun tak mampu untuk melakukannya.
Sudahlah, biarkan saja.
Aku hanya tak ingin membuatnya bosan denganku.
Itulah satu2nya cara untuk menenangkan hatiku dan tidak bergantungan dengannya.
Sama sepertiku, dia juga punya kehidupan disana, dia juga punya teman yang mengajaknya untuk nongkrong2, jadi jalani saja semuanya seperti semestinya.
Mulai saat itu aku mencoba untuk menikmati waktuku juga di Medan, dan tidak melulu memikirkan "Kok dia gak balas pesanku ya?" Or "Kok dia aktif tapi lama balas chat ya?".
Awal2 mencoba, masih terasa agak sulit dikarenakan aku yang sudah terlanjur menjadikannya prioritas utama yang mengalahkan segalanya, tetapi seiring berjalannya waktu, aku merasa aku sudah bisa mendapatkan kebahagiaanku walaupun saat itu nazril tak membalas pesanku, misalnya.
Kurasakan banyak perubahan antara aku dan dia semenjak pertengkaran kemarin, begitu juga dengan perubahan perasaanku. Bukan berkurangnya kadar sayangku padanya tetapi hanya saja aku sudah membiasakan hati untuk tidak terlalu berharap pada manusia.
"Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia."
- Ali Bin Abi Thalib -
Sejak saat itu aku mulai menjaga jarak dan sebisa mungkin menjadikan kehadiranku agar tidak menganggu kesibukannya disana.
Lagi pun dia memang sudah jarang menghubungiku, dan aku tidak ambil pusing lagi.
Terkadang ia mengirimiku pesan 2 hari sekali, isinya hanya ucapan salam atau bertanya sedang apa.
Aku yang sudah mencoba untuk tidak berharap banyak pun hanya membalas pesannya seadanya.
Terkadang aku tidak langsung membalas , karena aku tidak mau ia berfikiran bahwa aku tidak punya kegiatan disini selain menunggu pesan2 darinya.
Dan tanpa kusadari , lama kelamaan aku terbiasa seperti itu.
Aku juga sudah tidak sering menatap layar handphoneku berharap namanya lah yang muncul dan meretas kegundahanku, padahal jauh sebelum ini, aku seperti sakau akan kabarnya, aku akan uring2an jika tak mendapatkan pesan darinya.
Kini aku seperti merdeka kembali.
Ini bukan mengartikan bahwa aku tidak mencintainya lagi, ini hanya bagian dari caraku agar tidak terlalu meletakkan ekspetasi terlalu tinggi.
Maaf, aku harus menjaga jarak.
Aku berekspetasi terlalu banyak pada kehadiranmu.
Itu membuatku gelisah tak lelah.
Maaf, aku harus menjaga jarak.
Kesendirianku sebelum kau dan aku mengenal dekat ternyata terasa lebih aman dan nyaman.
Terima kasih pernah mampir membawa aroma harapan. Terima kasih pernah mampir membawa aroma trauma yang mengingatkanku tentang pengendalian diri.
Kau menyenangkan. Aku peduli padamu.
Tapi aku tak cukup mencintai untuk meresikokan hidupku.
- Reza Rusandi -
Puisi diatas sangat mewakilkan perasaanku saat itu.
Ketika dia sudah mulai tidak intens mengirimiku pesan, disaat bersamaan pun dia juga tidak pernah menelponku, terhitung dari pertengkaran terakhir kemarin.
Kuakui, tidak ada lagi perdebatan antara kami sejak pertengkaran kemarin, tetapi sejak itu juga pun komunikasi sudah tidak stabil.
Entahlah, aku tidak ingin memikirkan hal itu lagi.
Karena itu hanya akan membuatku kembali menerka2, dan aku lelah akan hal itu.
Jangan sampai pengorbananku untuk tidak terlalu berharap pada manusia akan sia2 dikarenakan aku memikirkan tentangnya yang mungkin belum tentu itu benar.
Kini sudah masuk akhir bulan Oktober, sudah 1 bulan ia tak menelponku.
Padahal semestinya kami harus lebih sering bertelpon, sekedar untuk memastikan akan kemana dan apa saja yang akan kami lakukan nanti ketika ia sudah tiba di Medan, karena kurang dari 2 bulan lagi kami akan bertemu, sesuai rencana yang telah kami rancang bersama2. Seharusnya aku patut untuk bersemangat 45 karena akan bertemu kekasihku yang sudah kunantikan kehadirannya berbulan2 lamanya.
Tetapi,Melihat kondisi hubungan ku yang semakin hari kian memprihatinkan pun aku hanya mampu memanjatkan doa pada Allah SWT agar dipermudah segala urusan kami dan dipertemukan sesegera mungkin.
Dia sempat mengirimiku pesan singkat :
"Maafin abang kalau belum jadi yg terbaik buat kamu, sementara kamu selalu jadi yang terbaik buat abang"
Terkadang kalimat2 seperti inilah yang sulit membuatku untuk terlihat tegas.
Hatiku begitu rapuh dan akan sangat cepat luluh jika ia mengatakan kalimat penggetar hati seperti itu.
Ditambah lagi aku terlalu mencintainya. Tak perduli seberapa dalam luka yang pernah ia goreskan di hatiku.
Kubalas dengan mengetikkan kalimat :
"Abang udah jadi yang terbaik untuk tya. Sementara tya yang masih harus terus belajar jadi yang terbaik untuk abang selalu".
Aku tidak mengerti pada diriku sendiri, mengapa aku sangat mencintainya. Sampai pada saat aku merasa tersakiti pun aku masih mampu untuk mengatakan bahwa dia telah jadi yang terbaik untukku.
Tetapi itu semua memang benar adanya. Semua pisau yang pernah ia tancapkan dihatiku dan melukai hatiku, seakan sirna ketika ia berbuat satu kebaikan saja. Kurasa disanalah kelebihanku, aku tak pernah bisa marah atau benci pada orang yang sangat ku inginkan keberadaannya.
Atau bahkan itu adalah kelemahanku? Entahlah, aku tidak mengerti...
Kembali lagi seperti biasanya, ia tidak berkabar, dan kali itu aku pun tidak Mencarinya.
Percuma saja, aku tidak akan pernah berhasil untuk mendapatkan kabarnya jika ia sedang hilang seperti itu.
Satu2nya jalan terbaik adalah diam, tidak perlu mencari tahu.
Dan benar saja, tiba2 muncul chat darinya, mengabarkan bahwa ia sedang sakit demam, dan minta maaf kepadaku karena tidak memberikan kabar.
"Sayang maaf gak ada kabar. Abang demam, panasnya 38,4"
Seandainya dia tau, jauh sebelum dia meminta maaf padaku, aku sudah memaafkannya, karena itu sudah menjadi bagian dari rutinitasku selama aku menjalin kasih dengan nya.
Mudah2an Allah Swt selalu menganugerahiku kelapangan dada untuk terus bersabar, Aamiin.
Kubaca dan kubalas :
"Ya Allah abang, tinggi itu panasnya. Kata mama banyakin minum air putih sayang. Jaga makan ya sayangku, jangan capek2 kali. Banyak istirahat ya. Syafakallah sayang"
Kembali dibalas olehnya keesokan harinya :
"Iya sayang, udah banyak minum air kok sayang. Kemarin seharian abang tiduran aja sayang"
Hmm baiklah, kurasa aku sudah memberikan perhatian yang cukup untuknya meskipun saat itu hanya bisa kulakukan dari tulisan.
Aku tidak bisa melakukan aksi selain mengiriminya pesan.
Betapa sakitnya menjalani Long Distance Relationship.
Ketika rindu menerpa, hanya bisa memandangi fotonya.
Ketika sakit, hanya mampu memperhatikannya dari kejauhan tanpa bisa melakukan semuanya dengan tangan ini sendiri.
Semoga Allah Swt dan Bumi segera berpihak pada Hubungan kami, agar tak ada lagi jarak berjauhan yang memisahkan antara aku dan dia.
Aku tak mampu, sungguh.
Ternyata perubahanku terlihat oleh orangtuaku. Seperti mereka ikut merasakan ada yang aneh antara aku dan Nazril saat itu, mama pun beberapa kali menyinggung tentang hubunganku dengan Nazril.
Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba2 saat aku sedang masak di dapur, mama melontarkan pertanyaan "Hubungan kamu dengan Nazril gimana?"
Biasanya dengan santai aku menjawab "Baik2 saja ma", tetapi kala itu jantungku deg2an, mulutku terasa terkunci tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, aku terdiam beberapa saat dan mencari kalimat yang tidak mengundang rasa curiga mama pada hubungan kami yang mulai tidak terkendali saat itu.
"Baik ma, cuma dia lagi sibuk aja sama pekerjaannya disana".
Lalu aku diam setelah mengatakan itu, dalam hati berharap agar mama tak melanjutkan pembahasan tentang kami dan tidak menanyakan hal2 lain yang akan semakin membuatku kaku saat itu.
Dan Alhamdulillah mama tidak bertanya lagi. Mungkin jawabanku saat itu cukup meyakinkannya bahwa Nazril memang sibuk dengan pekerjaannya.
Dan hal itu tidak terjadi sekali, beberapa kali mama menanyakannya tapi pada hari yang berbeda2. Padahal sebelumnya, mama tidak pernah sekepo itu jika tidak aku yang memulai membahas tentang Nazril.
Mungkin itulah kelebihan dari orangtua, ia ikut merasakan apa yang aku rasakan. Seperti ikatan batin. Maa syaa Allah.
Maafin tya ma, udah berbohong tentang perasaan tya yang sedang tidak baik2 saja seperti yang terlihat, Batinku dalam hati
Aku cuma tidak ingin melibatkan orangtua dalam hal2 yang tidak perlu mereka pikirkan.
Mereka cukup tau bahwa aku bahagia, itu saja.
Biarlah rasa sedihku hanya aku yang menyimpannya.
Kini aku lebih banyak mengisi hari2ku dengan kegiatan2 positif.
Selain pergi menghadiri Majelis Ta'lim, terkadang juga aku mencoba untuk menghafal ayat2 Al-Quran dirumah, untuk bekal ku ketika di akhirat nanti.
Walau tak banyak ayat yang kuhafal hingga sekarang ini, tapi minimal aku tetap berusaha untuk membacanya setiap hari dan berharap sedikit demi sedikit bisa hafal. Aamiin Allahumma Aamiin
Mengingat hal itu, aku jadi teringat akan perjanjian antara aku dan Nazril, ia mengajakku untuk menghafal Surah Ibrahim.
"Eh yng, kita hafal surah Ibrahim yuk. Ayatnya bagus yng" Ucapnya saat kami bertelpon beberapa bulan lalu.
"Yuk. Tp kasih tya waktu ya yng. Soalnya tya juga lagi ngehafal ayat lain". Ucapku ...
Aku memang selalu menuruti keinginannya, aku tak mampu untuk berkata "Tidak" padanya, dan selagi semua keinginannya itu adahal hal2 yang positif, kenapa harus menolak kan?
Lagipun permintaannya kala itu adalah kebaikan untuk kami, menghafal ayat Al-Quran.
Karena kami juga sadar, ketika kelak kami punya anak, mereka harus di didik berlandaskan ilmu Agama yang kokoh, dan kami yang kelak menjadi orangtua adalah sekolah pertama bagi anak2 kami kelak.
Maka dari itu, ketika mendengar permintaan Nazril tersebut, aku sangat senang sekali, karena pemikiran kami sejalan.
Aku menginginkan suami yang mau sama2 belajar untuk terus mendekat pada Allah Swt, dan Nazril adalah orangnya. Maa syaa Allah Tabarakallah
Saat sekarang ini, kami memang jarang sekali komunikasi.
Ia hanya mengirimiku pesan sesekali, dan aku juga mencoba untuk tidak terlalu memikirkan hal itu.
Karena ku yakin, Jika dia adalah yang Allah Swt tetapkan untukku, sejauh apapun ia pergi, bersama siapapun ia saat itu , pasti Allah Swt tetap akan datangkan ia pada ku di waktu yang sudah di tentukan Nya.
Tugasku hanya meminta hatinya pada sang pemiliknya, Allah Swt.
Mungkin ini adalah situasi yang genting di setiap hubungan, tanpa adanya komunikasi yang baik, akan ada banyak hal yang terjadi. Orang ketiga misalnya?
Sore itu aku sedang berada di Rumah Sakit, opaku dirawat lagi untuk yang kesekian kalinya. Karena memang keadaan beliau yang masih lemah dan harus di rawat inap.
Suasana sepi Rumah Sakit begitu membuatku bosan, ku check Whatsapp , tak ada siapapun yang mengirimku pesan, hanya beberapa pesan Di Grup yang tidak ingin kubaca karena isinya tidak terlalu penting menurutku.
Kubuka Facebook yang sudah sangat lama tidak kugunakan, aku bahkan tidak punya aplikasinya, aku hanya login melalui browser.
Aku kesulitan untuk mengakses facebook saat itu, mungkin karena signal di Rumah Sakit kurang memadai, berulang kali ku refresh agar aku bisa login, dan beberapa menit kemudian berhasil lah aku masuk ke beranda facebook.
Kulihat ada notifikasi pesan, langsung saja ku klik dan terpampang jelas nama seseorang yang tidak asing bagiku, mengirimiku pesan 5 menit yang lalu.
"Hai Tyara , Apa kabar?" Tulisnya.
Bagaimana bisa ketika aku login facebook yang sudah lama tidak ku gunakan dan disaat yang bersamaan pula ada yang mengirimiku inbox, seakan ia tau aku akan online saat itu?
Siapa dia? Pada penasaran?
Dia adalah tokoh utama di Blog pertamaku.
Yang sudah baca Blog ku dari awal pasti tau siapa yang ku maksud.
Ya benar, dia adalah AF, pria yang pernah ku kejar cintanya.
Dan dia juga pria yang memohon padaku agar aku bisa kembali seperti awal, mencintainya tanpa tapi.
Entah apa yang membuatnya menghubungiku lagi saat itu, aku bahkan sudah tidak berkomunikasi dengannya hampir 7 tahun. Sesekali dia pernah mengirimiku pesan di facebook, tapi tidak pernah kubalas.
Dan sekarang, dia mengirimiku pesan lagi?
Untuk apa?
Aku yang saat itu lagi bosan, ku coba untuk membalas pesannya dan juga aku ingin tau, kenapa dia menghubungiku setelah sekian tahun kami tidak komunikasi.
"Alhamdulillah baik" balasku...
Mungkin saat itu dia sedang online, karena kulihat ada pesan masuk lagi ke facebook ku setelah ku refresh.
Aku tak bisa melihat status online nya karena aku mengakses dari browser, jadi satu2nya cara untuk mengetahui apakah ada balasan lagi, ya refresh saja facebooknya.
Ternyata saat ku refresh, ada balas lagi darinya.
"Alhamdulillah dibalas juga, kirain udah gak pernah mau balas lagi. Tyara udh bercadar ya sekarang?".
Sudah lama aku telah mengganti photo profile ku dengan gambarku yang bercadar, mungkin maka dari itu menanyakan hal itu padaku. Karena sepengetahuan dia, aku dulu tidak menggunakan hijab, apalagi cadar.
Ya tentu saja, 7 tahun yang lalu adalah terakhir kami bertemu, dimana aku masih belum terlalu mengenal tentang syariat ilmu agama yang syar'i.
Tapi setiap manusia pasti berubah bukan?
Ada yang berubah menjadi lebih baik, adapula yang berubah menjadi tidak baik. Itu adalah pilihan masing2 orang. Jalani saja sesuai kemampuan masing2.
Dan untuk diriku pribadi, aku lebih memilih berubah kejalan yang lebih di Ridhoi oleh Allah Swt, dengan berhijab aku tidak bisa melabelkan bahwa diriku sudah baik, karena Islam memang mewajibkan untuk menutup aurat.
Aku hanya mencoba untuk menjalankan perintah Allah Swt, dan mencari Ridho Nya, urusan dipandang baik atau tidaknya, biarkanlah itu menjadi hak setiap orang.
Aku juga belum bercadar seperti yang AF tanyakan, aku hanya sedang berupaya untuk beristiqomah agar suatu waktu bisa menggunakannya tanpa melepasnya lagi.
Kubalas pesannya dengan singkat :
"Oh hehe blm. Tp kalau hijab udh lama Alhamdulillah"
Tak ada niat untuk menanyakan kabarnya , tak ada niat untuk lebih welcome atau semacamnya, karena aku tidak ingin dia mengartikan balasan chat ku adalah lampu hijau untuknya menghubungiku lagi.
Posisinya juga aku sudah punya calon suami yang sedang berusaha keras di Sumbawa untuk menghalaliku.
Aku tidak ingin membuat Nazril kecewa, aku tidak mau mengkhianatinya walaupun sebenarnya AF cuma mengirimiku pesan standart yang berisikan "Apa kabar".
Tapi tetap tidak bisa!!! Aku tak mampu untuk mendua dibelakang Nazril, bahkan untuk chatingan dengan pria lain pun aku takut.
Walau sebenarnya Nazril tidak akan tau jika aku berkomunikasi dengan AF. Tapi bukankah Allah Swt Maha tau?
Aku punya prinsip "Apa yang kita lakukan pada orang lain , itu yang akan orang lain lakukan pada kita".
Jadi seperti, jika aku terus2an membalas pesan AF walau awalnya cuma menanyakan kabar, pasti lama kelamaan akan berlanjut , entah itu flashback atau semacamnya.
Nah, bisa jadi disaat bersamaan juga Nazril berkirim pesan pada seseorang di masalalunya. Dan aku tidak ingin itu terjadi.
Sudahlah, aku sudah cukup yakin dengan Nazril ku, aku sudah memilihnya untuk menjadi landasan cintaku yang terakhir, aku tidak ingin jatuh cinta pada orang lain apalagi seseorang dari masalalu ku yang sudah mati2an kuberjuang untuk melupakannya.
Karena situasi hati yang sedang bosan, ditambah lagi aku sedang tidak intens berkomunikasi dengan Nazril, makanya aku mau balas pesan dari AF dan berlanjut , meskipun tidak ada niat sedikitpun untuk kembali mengenang nya, ini pure hanya karena menghargainya sebagai teman di masalalu.
AF : Tyara dimana sekarang?
Me : Oh di Medan nih
AF : Oh udah di Medan lagi? Kirain di Mana gitu.
Tyara udah nikah ya? Kok gak ngundang?
Me : Belum nikah. Kamu dimana sekarang?
AF : Oh aku baru aja sampai di Padang. Kemarin sempat di Jakarta , ditempat mama.
Tyara kerja dimana sekarang?
Me : Udah enggak kerja lagi
AF : Boleh minta nomer Hp Tyara ?
Me : Untuk apa?
AF : Untuk ngabarin lah. Kalau boleh sih. Nomer Wa juga ya, yang aktif kalau bisa.
Saat itu kuberikan nomer Whatsapp ku saja, aku masih tidak mengerti kenapa ia menghubungiku.
Ia mengatakan juga ingin menelpon ku.
"Nelpon? Untuk apa?" Ucapku heran...
AF : Ya mau ngobrol aja Tyara. Kan udah lama juga enggak komunikasi dengan tyara.
Tak kubalas lagi pesannya. Aku logout akun Facebook ku saat itu, dan AF pun tak langsung mengirimku pesan di whatsapp, walaupun sudah pasti dia telah nge save nomer yang kuberikan padanya tadi.
8 Oktober 2019, 21.42 WIB
(1 panggilan tak terjawab)
8 Oktober 2019, 21.57 WIB
(1 panggilan tak terjawab)
Lalu ada 2 pesan yang belum dibaca dari nomer yang belum tersave di Whatsappku , berisikan :
-Test
-Test
Saat itu aku sedang tidak memegang Handphoneku, sengaja aku meninggalkannya dirumah karena aku tau tidak akan ada yang menghubungiku untuk hal yang cukup penting.
Dan ketika aku mengecheck Handphoneku , langsung saja kulihat panggilan nya yang terabaikan dan pesan nya yang menanti untuk kubaca.
"Siapa?" Balasku singkat ...
Lalu terlihat 2 garis centang yang tadinya masih berwarna abu2 kini sudah berwarna biru, menandakan pesanku telah dibaca, terlihat juga status online nya, dan langsung saja terpampang "Sedang Mengetik"
Tidak lama kemudian, masuklah pesan berikutnya :
"Ini AF , Tyara udah pulang dari Rumah Sakit? Sekarang lagi dimana?"
Oh ternyata dia yang menelponku tadi, batinku...
Me : Oh nomer kamu . Sudah, ini dirumah.
AF : Iya ini nomer aku ya. Boleh nelpon gak?
Me : Maaf aku mau sholat Isya dulu ya (alasan)
Sebenarnya bukan sepenuhnya alasan sih, kebetulan saat itu aku memang belum sholat Isya, padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 Malam.
30 menit kemudian, selesai aku sholat dan saat itu aku sudah berbaring di atas tempat tidurku yang nyaman, aku berniat untuk tidur, bahkan aku tidak benar2 menunggu telpon darinya.
Saat sudah kuletakkan Handphoneku di samping bantalku, lalu tiba2 berbunyi dering nada tanda ada panggilan masuk dari nomer AF
Kuangkat , dan terdengar suara serak nya yang berada di ujung telpon mengatakan :
"Hallo Assalamualaikum Tyara"
Kujawab :
"Hallo Waalaikumsalam"
Berlanjut :
AF : Apa kabar tyara? Udah lama ya kita enggak ngobrol kaya gini.
Me : Baik Alhamdulillah. Iya terakhir nelpon beberapa tahun yang lalu kaya nya.
AF : Wah iya bener. Sudah lama sekali. Tapi suara tyara ga berubah ya, masih sama kaya yang dulu.
Me : Hehe... (ga tau mau ngomong apa lagi)
Akhirnya ia yang pertama membuka topik pembicaraan malam itu, berlanjut dengan bercerita tentang beberapa teman2 SMP dulu yang sekarang telah menikah.
AF : Eh Tyara tau gak, si N.... sudah nikah loh , di Padang sekarang.
Me : Oh ya? Alhamdulillah. Si S... malah udh 2 anaknya.
AF : Iya ya haha , ga terasa ya padahal dulu masih main sama2, eh sekarang udah pada nikah aja.
Tyara kapan nikah?
Aku sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk membahas pernikahan pada saat itu, lagi pula untuk apa dia menanyakan itu?
"Doakan saja ya hehe..." Jawabku dingin
Lalu seperti tidak ingin merubah topik pernikahan, ia pun mengatakan :
AF : Oh gitu ya hehe Nanti kalau nikah, jangan lupa ngundang ya...
Me : In Syaa Allah. Eh tapikan kamu di Padang...
AF : Pasti tetap datang kok walaupun lagi di Padang..
Me : Oh okay. In syaa Allah
Lalu aku tak mengerti apa tujuannya menanyakan hal2 yang menurutku tidak pantas untuk dipertanyakannya.
AF : Emang Tyara udah siap menikah?
Me : Loh kenapa emang? (Tanyaku bingung)
AF : Gpp. Boleh gak kalau dalam waktu dekat ini aku kerumah kamu? Rumah tyara masih yang lama kan?
Me : Hah? Ngapain? Iya masih yang lama. Bukannya kamu bilang , kamu lagi di Padang ya?
AF : Iya di Padang sekarang, cuma kan bisa aja ntar langsung ke Medan.
Aku pengen ketemu orangtua kamu .
Me : Maksudnya gimana sih?
AF : Aku tanya lagi ya. Tyara udah siap nikah?
Me : In Syaa Allah Siap...
Jelas saja aku jawab "Siap", lah kan aku memang sedang berada di hubungan serius dengan calonku yang saat ini masih berada di Sumbawa, Nazril.
Kami memang ingin menikah, tentu saja kukatakan pada AF bahwa aku siap untuk menikah, tetapi bukan dengan nya, melainkan dengan Nazril ku, seseorang yang selalu ku minta hati nya pada sang
pencipta , Allah Swt.
AF : Alhamdulillah kalau sudah siap ...
Nanti aku datang ke Medan bareng kakak ku ya ...
Me : Bahas apaan sih? Udh deh, jangan kebanyakan ga jelas gitu...
AF : Hehe ... Tyara Tyara ...
Me : Udah dulu ya, udah malem.
AF : Oh iya udah malem, kamu mau langsung tidur?
Yaudah jangan bergadang ya.
Eh tapi ngapain aku ingatin ya, aku kan bukan siapa2 kamu...
Me : Hehe.. iya, ingatin sebagai teman gpp. Assalamualaikum...
AF : Oh iya teman ya , oke deh. Waalaikumsalam ...
Terlihat jelas apa maksud dan tujuannya.
Ada yang tidak beres di balik kalimat2 ungkapannya nya tadi.
Apa kalian juga merasakannya?
Aku sudah pernah berada di fase itu, sudah berulang kali.
Aku cukup jeli untuk menangkap signal signal kode dari orang yang berusaha untuk mendekatiku.
Dengan sengaja di akhir kalimat ku katakan padanya "mengingatkan sebagai teman", agar dia sadar bahwa kehadirannya saat itu tidak lebih dari sekedar teman, tidak akan.
Aku bisa saja dengan mudah mengatakan padanya bahwa aku sudah punya calon suami, meskipun belum terlihat sosoknya yang nyata pada saat itu.
Hanya saja AF tak pernah menanyakan "Apakah aku sudah punya calon" , jadi untuk apa aku memberitahunya? Aku tidak ingin AF merasa bahwa aku terlalu kepedean , pertanyaan2 itu hanya tak tik nya agar aku mengungkapkan bahwa aku sudah ada yang memiliki atau belum.
Lagi pula pun aku belajar dari pengalaman, tidak perlu mengumbar apapun yang kita punya, termasuk calon suami.
Biar saja semua orang berpikiran bahwa aku belum punya pendamping, padahal teman seusiaku seharusnya sudah pada menggandeng calon atau bahkan suami.
Menurutku merahasiakan semua itu lebih baik daripada harus mengumbarnya kesana kemari, karena di dalam Agama ku, Islam , banyak sekali penyakit hati yang diderita banyak manusia termasuk Hasad .
Hasad (dengki) merupakan penyakit hati yang berbahaya bagi manusia, karena penyakit ini menyerang hati si penderita dan meracuninya, membuat dia benci terhadap kenikmatan yang telah diperoleh oleh saudaranya, dan merasa senang jika kenikmatan tersebut musnah dari tangan saudaranya.
Rasulullah shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda :
استعينوا على إنجاح الحوائج بالكتمان، فإن كل ذي نعمة محسود
” Bantulah KESUKSESAN hajat-hajat kalian dengan MERAHASIAKANNYA, karena setiap orang yang memiliki nikmat itu akan menjadi sasaran HASAD orang lain. [Silsilah Shohihah: 1453].
Hadist ini adalah alasan terkuatku untuk tidak mengumbar apapun kepada siapapun kecuali pada orangtuaku dan keluarga sahaja.
Setelah AF selesai menelponku, aku langsung tidur dan tak lupa membaca beberapa Doa yang dianjurkan sebelum tidur, sekaligus memohon kepada Allah 'Azza Wa Jalla agar rindu ku akan pada kehadiran Nazril disetiap detik ku segera terwujud. In syaa Allah, Aamiin Allahumma Aamiin
Hubungan kami tak selamanya berjalan mulus dan penuh dengan kata2 romantis setiap hari.
Pun , tak kupungkiri terkadang kami bertengkar kecil2an , tapi itu adalah bumbu dalam hubungan kami.
Kurasa pertengkaran kecil itu terlalu biasa, dan pasti ada disetiap hubungan. Kunikmati alurnya, walaupun terkadang saat bertengkar, selalu saja aku yang "Baper".
Nazril yang selalu siap untuk di omelin pun akan tetap diam dikala ribuan ocehanku menyerbunya, tapi dia tidak selamanya diam, dia cenderung lebih suka "Iseng" saat aku lagi di puncak emosi .
Dia : jangan marah2 aja, makan juga biar marahnya kuat. Abang juga disini mau makan biar kuat ladeni adek 😂😂
Membaca isi pesan darinya seperti itu pun aku jadi merasa makin kesal, tapi tidak bisa berbuat apa2. Cuma bisa melanjutkan jurus seribu omelan yang akan berlanjut beberapa jam kedepan.
Melihat suasana seperti itu pun Nazril mencoba untuk menenangkanku dengan cara nya, dikala aku masih membalas chatnya dengan kalimat2 penyerangan, dia juga balas :
Ya udah istirahat dulu sana. Biar ga marah ..
Tenangin diri dulu..
Adek sayang abang kan?
Love you tyara
Jangan marah lagi ya sayang..
Abang ga macam2 di sini, abang jaga hati disini
Abang bukan bermaksud mau buat adek khawatir atau apa..
Abang ga mau buat adek marah
Abang minta maaf ya sayang kalau abang salah
Love you tyara ku sayang❤
Masih dengan keadaan kesal, kubaca pesannya, kulihat setiap kata yang dituliskannya, dan aku yang masih belum stabil hanya membalas "Tya ga bisa", di iringi dengan emoticon menangis agar mempertegas bahwa diriku sangatlah sedih saat itu. Nazril pun kembali mengirimiku pesan :
Tya percaya sama abang ya sayang
Abang disini berusaha jaga hati abang
Abang sayang tya
Tya kesayangan abang
Wanita yang abang sayang dan selalu ada di hati abang
Kalau ada sayap abang rela kesana sekarang buat buktiin ke adek.
Sayangnya abang cuma manusia biasa, yang penuh kesalahan.
Maafkan kekasihmu ini sayang❤
Udah ya, Jangan bertengkar sekarang, ga enak, jauh.
Kalau udah nikah , bertengkar ga apa2
Bisa langsung peluk dan tenangin kamu
Bayangin deh, peluk sampai pagi dan kamu sambil marah2, abang cuma lihat sambil senyum aja.
Lalu kucoba untuk membayangkan apa yang di sugestikannya padaku, dan aku rasa itu cukup menyenangkan.
Karena pelukan yang di sugestikannya adalah pelukan halal yang aku dan dia masih mendoakan agar segera terwujud secepatnya. In Syaa Allah, Aamiin..
Eh tapi, yakin mau meluk singa yang lagi marah?
Hmm, begitulah cara dia menenangkanku dikala aku sedang emosi tingkat dewa. Bahkan dia tak pernah terpancing emosi saat aku omelin, dia memang berbeda, dia selalu buat aku jatuh hati setiap harinya, dengan persentase yang bertambah pula.
Ma syaa Allah Kekasihku ...
Selesai drama pertengkaran, dia selalu menyuruhku untuk menenangkan diriku terlebih dahulu, dan lagi2 aku malu akan kejadian2 yang suasananya diperkeruh oleh tingkahku sendiri. Itu semua diluar dari kendaliku, terkadang disaat aku ingin terlihat kalem saat menghadapi masalah, saat itu pula syaithan menggodaku untuk mengeluarkan semua energy untuk terus ngomelin seseorang yang sudah mengakui kesalahannya.
Wahai diriku, teruslah belajar untuk bersabar, jangan ikuti nafsu syaithan. Astagfirullah...
Dia sudah sangat cukup memahami sifat dan karakterku, sehingga dia bisa dengan tenang menghadapiku ketika aku sedang badmood atau sedang marah.
Terimakasih Ya Allah..
Terimakasih telah menciptakan dia untukku dan mendatangkan dia dikehidupanku...
Aku sangat menyanyangi hamba mu itu Ya Rabb...
Nazril sempat bertanya padaku, siapkah aku ikut dengannya ke Sumbawa setelah kami menikah nanti?
Aku bahkan tidak ada alasan untuk menolaknya kan?
Bukankah itu sudah menjadi kewajibanku setelah resmi menjadi seorang istri?
Dengan ada atau tidaknya kegiatanku di Medan, ketika aku sudah menikah dan suamiku ingin aku ikut dengannya, maka wajib hukumnya untuk ku patuhi perintahnya.
Aku tidak akan membiarkan suamiku di Sumbawa dan aku di Medan, tidak mungkin. Cukup proses Ta'aruf ini sajalah yang memisahkan kami dengan jarak antara Medan-Sumbawa, dan ini sangat berat. Biarkanlah setelah menikah, aku mendampingi suamiku kemanapun ia pergi, izinkan aku untuk berbakti kepada suamiku, aku ingin menghabiskan sisa umurku bersama suamiku dan aku akan menikmati setiap detiknya bersama suamiku, Nazril.
Jadi, In Syaa Allah aku siap lahir dan bathin.
Suamiku adalah ladang pahala untukku, bagaimana bisa aku tidak mematuhi perintahnya?
24 Juni 2019, 08.00 AM (WIB)
Nazril menelponku, padahal semalam baru saja aku marah2 padanya dikarenakan dia yang sangat sibuk sehingga tak sempat memberiku kabar.
Tapi dia sama sekali tak menghiraukan itu, meskipun aku sudah marah padanya, tetap saja dia menelponku di pagi harinya, dengan suara khas nya yang sangat membuatku semakin merindukannya.
" Hallo, Assalamualaikum, baru bangun?".
Lalu kami bercerita, seakan masalah semalam tak ada lagi dibenakku. Aku memang seperti itu, aku akan emosi padanya tetapi tidak akan bertahan lama, aku tak sanggup berdiaman dengannya, dia hidupku, bagaimana mungkin aku diam pada sang kekasih yang sangat kucintai?
Tak banyak kata yang ku ucap pagi itu, aku hanya mendengarkan kesibukannya disana yang ntah apa itu aku tak tau, yang ku tau hanyalah , aku menikmati setiap suara hembusan nafasnya dan sesekali memanggilku "sayang" dengan nada lembutnya jika ia tak mendengarkan suaraku dibalik handphone masing2.
Meskipun hubungan kami saat itu bergantung pada signal dan pulsa, tapi aku yakin, disanapun ia sungguh sangat menantikan semuanya menjadi nyata.
Agar tak ada lagi hati yang tersiksa akan rindu yang semakin hari kian bertambah, agar tak ada lagi perasaan gundah gulana saat tak menerima kabar dalam waktu yang menurutku cukup lama dan agar tak ada lagi keraguan hati, karena saat bersamanya kelak, hidupku akan lengkap.
21 September 2019 11.00 AM (WIB)
Pertengkaran terjadi...
Sudah sekian lama kami tidak bertengkar, akhirnya pada hari itu aku melakukan hal yang semestinya tidak ku lakukan.
Bermulai dari aku memintanya untuk menelpon orangtuaku dan ia pun menyetujui nya dengan mengatakan "Oke dalam waktu 2 - 3 hari ini abang telpon ya, biar abang selesaikan kerjaan abang dulu".
Dan aku pun dengan sangat sigap menanggapi janji nya itu.
Entah aku yang terlalu serius atau dia yang memang tidak berniat untuk menelpon orangtuaku.
Sebenarnya aku tidak akan memaksa nya jika memang ini bukan hal yang cukup penting bagi hubungan kami, tetapi mungkin itu hanya menurutku saja, sedangkan menurutnya ini tidak perlu dibahas di telpon melainkan ia ingin berbicara langsung ketika sudah berada di Medan nanti. Ketika ia berjanji saat itu hanyalah karena ingin membuatku tenang saja, agar tidak mendesak terus menerus. Dan akhirnya pun dia memang tidak menelpon orangtuaku setelah kutunggu selama 3 hari sesuai dengan janjinya.
Cuma karena itu, pertengkaran pun terjadi.
Ketika ia mengirimkan pesan padaku, kubalas dengan sesingkat dan sesinis yang kubisa.
Entah itu berhasil membuatnya sadar atau tidak, yang terpenting aku sudah menunjukkan bahwa pada saat itu aku marah.
Hingga akhirnya dia menelponku sekitar jam 11 siang, ketika itu aku sedang diparkiran Mart dan langsung saja kuangkat telpon nya karena aku sudah tak sabar ingin mengeluarkan semua kekesalanku dikarenakan janji yang tak ditepatinya.
Aku bahkan tak perduli lagi dengan situasi Mart yang cukup sepi saat itu sehingga akan terdengar jelas jika aku berbicara ditelpon, biar saja mereka menganggapku aneh dan melihatku marah2 ditelpon. Aku sudah kehilangan control.
Ketika kuangkat dan kukatakan "Hallo" padanya, terdengar suara khas nya menyambut dengan hangat dan mengatakan "Hallo Assalamualaikum".
Suara itu sangat kusukai, suara itu sangat kunanti2, suara itu bahkan menjadi alasan kenapa aku selalu merindukannya, tetapi saat itu rasa kecewa dan emosiku telah mengalahkan hal lainnya, aku sudah tak bisa menahan nya.
Langsung saja ku katakan padanya "Sekarang maunya apa sih? Ditunggu untuk nelpon malah ga jadi. Sesibuk itukah? Susah kah untuk nelpon sebentar saja? Ini kan demi kebaikan hubungan kita juga", dia hanya membalas dengan perkataan "Iya maaf".
Lagi lagi aku makin kesal dan bilang "Tya ga butuh kata maaf".
Keadaan semakin keruh, aku yang benar2 emosi saat itu , ditambah lagi dengan jawabannya yang hanya permintaan maaf seperti biasanya..
Kucoba untuk diam dan menunggu apa yang akan dia katakan selanjutnya, tetapi tak kudengar sepatah kata pun darinya ..
"Udah? Diam aja?" Tanyaku..
"Abang belum siap sayang".
Dengan nada yang cukup meyakinkan ku katakan padanya "Belum siap apa bang? Apa yang perlu disiapkan lagi? Abang tinggal menelpon dan sisanya biar tya yang urus di Medan. Sudahlah, jangan kasih tya harapan terus kalau abang enggak bisa berkomitmen, tya gak bisa" jawabku..
" oh kok kayak gitu ngomongnya? Kamu ragu sama abang? " tambahnya saat itu..
Dan saat aku mau jawab, dia sudah mengatakan "sekarang terserah aja maunya gimana, TERSERAH" tegasnya dengan nada yang menurutku saat itu pertanda pertengkaran tidak akan selesai.
Aku dengan kadar emosi yang masih berkobar2 pun terpancing untuk balas dengan kalimat yang tak kalah hebat merutku "oh yaudah terserah. Gitu aja kan? Tya gak bisa kayak gini. Oke, udahya. Assalamualaikum" kututup telpon dengan cepat, karena aku tak ingin melanjutkan pertengkaran itu, aku sudah bosan, sudah muak.
Biarkan saja semuanyanya seperti itu, terbengkalai entah sampai kapan. Dengan keadaan puas dihati karena merasa sudah mengutarakan semua perasaan kecewa, akupun pergi beranjak dari Mart tsb menuju pulang kerumah.
Didalam perjalanan, masih terngiang-ngiang kalimat2 sewaktu telponan tadi, seakan semuanya begitu mudah untuk saling melontaran kata "Terserah", seperti tidak ada ujungnya dan entah bagaimana kejelasannya.
Aku bahkan tak ingin menghubunginya lagi, biarlah saja semua seperti itu, saat itu aku benar2 pasrah.
Tangisku pun melimpah ruah ketika aku menghadap Tuhanku, tak kenal lelah kupanjatkan doa2 terbaik untuk diriku dan dirinya meski hubungan kami sudah diujung perpisahan.
Nama nya tak pernah absen disetiap bait2 doaku.
Seakan tak peduli sehancur apa hatiku saat mengakhiri komunikasi kemarin, tetap saja ia yang kuminta pada Tuhanku untuk menjadi teman hidupku di Dunia dan Surga kelak.
Hari pertama bertengkar, tak kudapati ia menghubungiku, padahal biasanya ia selalu mengirimku pesan singkat walaupun kami sedang bertengkar, walau sebatas mengingatkan "Jangan lupa makan ya" .
Tapi hari itu, tak ada tanda kemunculannya di layar handphoneku.
Hari demi hari kumenunggunya , masuk hari ke 3, dengan yakin aku memandang layar handphoneku menunggu pesannya, dalam hati berkata "Pasti hari ini dia menghubungiku".
Malam berganti pagi, sebaliknya pagi berganti malam, begitu seterusnya hingga seminggu lamanya, tak kudapati kabar darinya.
Perasaan optimisku pun berubah menjadi pesimis.
Banyak sekali pikiran menerka-nerka selama aku tak komunikasi dengannya.
Seperti :
- Apa dia sudah melupakanku?
- Apa dia menganggap perkataan ku kemarin adalah kalimat perpisahan?
- Mungkin dia sudah menemukan pendamping baru disana...
- Menurutnya Sudah berakhirkah semua ini?
Semakin aku menerka-nerka, semakin kurasakan sakit dikepala, dan akhirnya aku down.
Aku menjadi tidak fokus melalukan semua aktifitasku, aku berubah menjadi orang yang sensitif dan tidak ingin diganggu siapapun.
Hingga pada akhirnya, di hari ke 9 dia tidak juga memberikan kabar kepadaku.
Saat itu Adzan Ashar berkumandang, bergegas aku mengambil Wudhu, dan aku berniat, aku akan mengirimkan pesan padanya selesai sholat Ashar.
Tetapi entah mengapa rasa di hati selalu menolak untuk mengabarinya deluan, ini bukan perkara gengsi, melainkan hanya ingin tau sampai di batas mana ia akan tahan tidak mengabariku?
Dan ternyata ia tak sedikitpun peduli dengan semua ini , simpulku saat itu. Karena ia bahkan tak mencoba untuk menghubungiku deluan.
Dan lagi2 aku yang mengalah atas segalanya, tepat dihari ke 10 kami tidak saling memberi kabar, akhirnya kutekadkan untuk mengirimkannya pesan, dengan perasaan deg2an di dada, bercampur dengan perasaan kacau yang masih tersimpan di dada, kutulis pesan yang berisikan "Abang" dan ku klik enter untuk mengirimnya. Bismillah,ucapku lirih.
Seperti biasa, ia tak langsung membalas, aku sudah tak heran jika pesanku lama mendapat respon dan balasan darinya, entah itu memang karena sibuk, atau mungkin karena I am not the only one baginya hehe
Akupun tak ingin fokus menunggu balasan pesan darinya, kuletakkan handphoneku di Meja dan aku melanjutkan kesibukanku saat itu.
Ketika aku sudah lupa akan balasan pesan darinya, seketika Handphoneku berbunyi, yang menandakan notifikasi pesan dengan nada yang ku khususkan hanya untuknya.
Berdegup detak jantungku saat kudengar suara notifikasi itu, sontak saja aku langsung berdiri mengambil handphoneku dengan cepat dan melihat isi pesan darinya.
Ketika ku buka, dan balasannya hanya "Yaa".
Hah? Yang benar sajaaaa (ucapku dengan nada sedikit kesal).
Tentu saja aku kesal, aku telah memulai mengirimkannya pesan, lalu aku hanya mendapatkan balasan "Yaa" setelah 10 hari tidak berkabar?
Kulihat status nya saat itu sedang online , buru2 aku masuk ke kamar agar aku bisa fokus mengetik pesan yang akan kubalas pada saat itu juga.
Dengan detak jantung yang masih deg2an, kubalas pesannya "Kemana aja? Online tapi ga ada kabar".
02 Oktober 2019, 9.56 AM (WIB)
Nazril : Adek yang kemana aja? Gak ada kabar setelah marah2 kemarin.
Me : Maafin tya bang. Maaf kalau udah marah2...
Nazril : Iya gpp.. abang udah maafin.
Me : Masih marah ke Tya?
Nazril : Marah? Abang gak Marah..
Me : Apa yang terjadi setelah 10 harian ga kabar2an? Udah males liat Tya?
Nazril : Ga ada apa2, biasa aja. Yang mau kaya gitu kan adek, bukan abang. Jadi abang turuti aja biar adek gak terpaksa nerima sifatnya abang.. Nah sekarang udah ngerti kan?
Me : Abang nurutin atau abang emang udah males?
Nazril : Abang gak ada kabar bukan berarti abang gak sayang sama kamu. Abang cuma kasih kamu waktu buat nemuin apa yang sebenarnya kamu cari.
Mataku mulai berkaca2, dan tanpa kusadari aku telah meneteskan air mata lagi untuk kesekian kalinya.
Aku memang tak pernah berhasil menahan tangis, lemah.
Me : Abang tau lah pastinya kenapa tya terlalu kaya gini sama abang..
Nazril : Abang tau, makanya abang diamin.
Me : Tya gak tau mau bilangnya gimana, gak bisa diungkapin, susah untuk dijelasin.
Nazril : Abang biarin adek nemuin jawaban adek sendiri. Yaudah gak usah dibahas lagi.
Me : Dengan cara abang diamin tya, disini tya merasa tidak baik2 aja bang.
Nazril : Abang kirain adek udah nemuin yang baru😃
Me : Abang udah cancel semua rencana kita kah?
Nazril : Sempat mikir gitu, soalnya gak ada kabar.
Me : Udah sempat mikir gitu? Sanggup kali ya
Nazril : Kirain adek bakalan gak ada kabar terus.
Kan adek yang negasin waktu itu. Adek bilang jangan kasih harapan.
Me : Abang udah move on?
Nazril : Nggak..
Me : Jadi sekarang gimana?
Nazril : Jalanin aja seperti awal. Abang pengen kita kaya di awal dulu, ceria. Gak bertengkar terus kayak sekarang.
Udah, jangan nyalahin abang terus. Semua yang kamu bilang itu gak ada benarnya. Abang gak kaya gitu.
Me : Perasaan abang setelah berhari2 ga ada kabar2an dengan tya gimana?
Nazril : Sempat cemas kalo bakal kehilangan kamu.
Me : Tapi abang sering ninggalin tya
Nazril : Kapan abang ninggalin adek?
Abang juga gak pernah maksa adek untuk jadi seperti yang abang mau. Abang berikan kamu kebebasan .
Me : Tya ga suka di bebasin. Dengan cara kaya gitu tya merasa gak dimiliki.
Nazril : Gak suka di bebasin? Di bebasin bukan berarti kamu bukan milik abang. Kamu abang bebasin karena abang percaya kamu tau mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang abang suka dan mana yang nggak abang suka.
Me : Tapi tya merasa kaya nya mulai ada jarak antara kita
Nazril : Berjarak apalagi? Mulai deh Nuduh lagi. Nyari masalah lagi?
Udah deh, hati abang masih sama seperti biasanya. Ga beda sayang.
Jangan ragu tentang sayang abang ke kamu.
Abang punya cara sendiri buat buktiin ke kamu.
Jangan maksain abang, abang ga suka.
Tak kubalas lagi chat terakhirnya. Aku bahkan belum bisa tenang walaupun sudah mendaptkan kabarnya...
03 oktober 2019, 8.56AM (WIB)
Nazril : Lagi ngapain? Siapa yang masuk Rumah sakit?
Sebelumnya aku sempat posting keberadaanku yang sedang berada di salah satu RS di Kota Medan.
Me : Opa yang masuk Rumah Sakit. Tya lagi nunggu hujan reda, biar bisa pulang sebentar. Soalnya opa minta dibuatin Bolu Pisang.
Nazril : Opa kenapa? Gimana keadaan opa? Ada opa disitu?
Semoga Allah lindungi opa ya.
Doain yang terbaik buat opa .
Me : Opa sakit penyempitan syaraf otak.
Iya bang In Syaa Allah..
Nazril : Adek hati2 kalau pulang nanti ya ..
Hati2 bawa motornya . Jalanan licin kalau hujan gitu, jangan nge rem mendadak. Jangan terlalu dekat dengan kendaraan lain, Jaga jarak biar aman.
Me : Iya bang.
Nazril : Kok abang?
Me : Iya yng. Maaf
Nazril : Kok yng?
Me : jadi apa dong?
Nazril : Sayang
Me : Iya Sayang
Nazril : kok sayang? Abi dong
Me : Eh beda lagi?
Nazril : Sayang aja deh, ntar kalau panggil Abi nya sekarang, pas udah nikah gak greget lagi hahaha
Ya Tuhan, aku tuh suka gemes kalo dia suka jahilin kaya gitu.
Aku sama Nazril emang suka bahas2 mau dipanggil apa pas ntar udah nikah.
Dan pilihan sementara masih panggilan "Abi & Ummi" sih, makanya kadang dia suka praktekkin manggil Ummi ke aku , tapi selalu aku bilang "Eh jangan, ntar aja pas udah nikah biar greget".
Hari2 pun berjalan seperti biasanya, aku dengan aktifitasku di Medan, dan dia dengan segudang kesibukannya di Sumbawa.
Dengan kejadian kemarin, aku sudah tidak ingin menyimpulkan suatu hal atas dasar pemikiranku sendiri.
Karena, bertengkar itu sangat tidak enak, apalagi bertengkar dengan seseorang yang sangat kucintai.
Semua terasa serba salah, lagi lagi yang korban adalah hati dan perasaan.
Aku mulai membiasakan hatiku untuk tetap tenang apapun yang terjadi.
Aku juga tidak akan spam chat padanya jika dia tidak ada kabar.
Bahasa lain nya seperti ini "Siapapun yang ingin pergi, pasti dia akan pergi. Siapapun yang ingin tetap tinggal,maka dia akan tinggal"
Akan hanya lelah yang kudapat jika terus2an aku memaksakan sesuatu yang dia pun tak mampu untuk melakukannya.
Sudahlah, biarkan saja.
Aku hanya tak ingin membuatnya bosan denganku.
Itulah satu2nya cara untuk menenangkan hatiku dan tidak bergantungan dengannya.
Sama sepertiku, dia juga punya kehidupan disana, dia juga punya teman yang mengajaknya untuk nongkrong2, jadi jalani saja semuanya seperti semestinya.
Mulai saat itu aku mencoba untuk menikmati waktuku juga di Medan, dan tidak melulu memikirkan "Kok dia gak balas pesanku ya?" Or "Kok dia aktif tapi lama balas chat ya?".
Awal2 mencoba, masih terasa agak sulit dikarenakan aku yang sudah terlanjur menjadikannya prioritas utama yang mengalahkan segalanya, tetapi seiring berjalannya waktu, aku merasa aku sudah bisa mendapatkan kebahagiaanku walaupun saat itu nazril tak membalas pesanku, misalnya.
Kurasakan banyak perubahan antara aku dan dia semenjak pertengkaran kemarin, begitu juga dengan perubahan perasaanku. Bukan berkurangnya kadar sayangku padanya tetapi hanya saja aku sudah membiasakan hati untuk tidak terlalu berharap pada manusia.
"Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia."
- Ali Bin Abi Thalib -
Sejak saat itu aku mulai menjaga jarak dan sebisa mungkin menjadikan kehadiranku agar tidak menganggu kesibukannya disana.
Lagi pun dia memang sudah jarang menghubungiku, dan aku tidak ambil pusing lagi.
Terkadang ia mengirimiku pesan 2 hari sekali, isinya hanya ucapan salam atau bertanya sedang apa.
Aku yang sudah mencoba untuk tidak berharap banyak pun hanya membalas pesannya seadanya.
Terkadang aku tidak langsung membalas , karena aku tidak mau ia berfikiran bahwa aku tidak punya kegiatan disini selain menunggu pesan2 darinya.
Dan tanpa kusadari , lama kelamaan aku terbiasa seperti itu.
Aku juga sudah tidak sering menatap layar handphoneku berharap namanya lah yang muncul dan meretas kegundahanku, padahal jauh sebelum ini, aku seperti sakau akan kabarnya, aku akan uring2an jika tak mendapatkan pesan darinya.
Kini aku seperti merdeka kembali.
Ini bukan mengartikan bahwa aku tidak mencintainya lagi, ini hanya bagian dari caraku agar tidak terlalu meletakkan ekspetasi terlalu tinggi.
Maaf, aku harus menjaga jarak.
Aku berekspetasi terlalu banyak pada kehadiranmu.
Itu membuatku gelisah tak lelah.
Maaf, aku harus menjaga jarak.
Kesendirianku sebelum kau dan aku mengenal dekat ternyata terasa lebih aman dan nyaman.
Terima kasih pernah mampir membawa aroma harapan. Terima kasih pernah mampir membawa aroma trauma yang mengingatkanku tentang pengendalian diri.
Kau menyenangkan. Aku peduli padamu.
Tapi aku tak cukup mencintai untuk meresikokan hidupku.
- Reza Rusandi -
Puisi diatas sangat mewakilkan perasaanku saat itu.
Ketika dia sudah mulai tidak intens mengirimiku pesan, disaat bersamaan pun dia juga tidak pernah menelponku, terhitung dari pertengkaran terakhir kemarin.
Kuakui, tidak ada lagi perdebatan antara kami sejak pertengkaran kemarin, tetapi sejak itu juga pun komunikasi sudah tidak stabil.
Entahlah, aku tidak ingin memikirkan hal itu lagi.
Karena itu hanya akan membuatku kembali menerka2, dan aku lelah akan hal itu.
Jangan sampai pengorbananku untuk tidak terlalu berharap pada manusia akan sia2 dikarenakan aku memikirkan tentangnya yang mungkin belum tentu itu benar.
Kini sudah masuk akhir bulan Oktober, sudah 1 bulan ia tak menelponku.
Padahal semestinya kami harus lebih sering bertelpon, sekedar untuk memastikan akan kemana dan apa saja yang akan kami lakukan nanti ketika ia sudah tiba di Medan, karena kurang dari 2 bulan lagi kami akan bertemu, sesuai rencana yang telah kami rancang bersama2. Seharusnya aku patut untuk bersemangat 45 karena akan bertemu kekasihku yang sudah kunantikan kehadirannya berbulan2 lamanya.
Tetapi,Melihat kondisi hubungan ku yang semakin hari kian memprihatinkan pun aku hanya mampu memanjatkan doa pada Allah SWT agar dipermudah segala urusan kami dan dipertemukan sesegera mungkin.
Dia sempat mengirimiku pesan singkat :
"Maafin abang kalau belum jadi yg terbaik buat kamu, sementara kamu selalu jadi yang terbaik buat abang"
Terkadang kalimat2 seperti inilah yang sulit membuatku untuk terlihat tegas.
Hatiku begitu rapuh dan akan sangat cepat luluh jika ia mengatakan kalimat penggetar hati seperti itu.
Ditambah lagi aku terlalu mencintainya. Tak perduli seberapa dalam luka yang pernah ia goreskan di hatiku.
Kubalas dengan mengetikkan kalimat :
"Abang udah jadi yang terbaik untuk tya. Sementara tya yang masih harus terus belajar jadi yang terbaik untuk abang selalu".
Aku tidak mengerti pada diriku sendiri, mengapa aku sangat mencintainya. Sampai pada saat aku merasa tersakiti pun aku masih mampu untuk mengatakan bahwa dia telah jadi yang terbaik untukku.
Tetapi itu semua memang benar adanya. Semua pisau yang pernah ia tancapkan dihatiku dan melukai hatiku, seakan sirna ketika ia berbuat satu kebaikan saja. Kurasa disanalah kelebihanku, aku tak pernah bisa marah atau benci pada orang yang sangat ku inginkan keberadaannya.
Atau bahkan itu adalah kelemahanku? Entahlah, aku tidak mengerti...
Kembali lagi seperti biasanya, ia tidak berkabar, dan kali itu aku pun tidak Mencarinya.
Percuma saja, aku tidak akan pernah berhasil untuk mendapatkan kabarnya jika ia sedang hilang seperti itu.
Satu2nya jalan terbaik adalah diam, tidak perlu mencari tahu.
Dan benar saja, tiba2 muncul chat darinya, mengabarkan bahwa ia sedang sakit demam, dan minta maaf kepadaku karena tidak memberikan kabar.
"Sayang maaf gak ada kabar. Abang demam, panasnya 38,4"
Seandainya dia tau, jauh sebelum dia meminta maaf padaku, aku sudah memaafkannya, karena itu sudah menjadi bagian dari rutinitasku selama aku menjalin kasih dengan nya.
Mudah2an Allah Swt selalu menganugerahiku kelapangan dada untuk terus bersabar, Aamiin.
Kubaca dan kubalas :
"Ya Allah abang, tinggi itu panasnya. Kata mama banyakin minum air putih sayang. Jaga makan ya sayangku, jangan capek2 kali. Banyak istirahat ya. Syafakallah sayang"
Kembali dibalas olehnya keesokan harinya :
"Iya sayang, udah banyak minum air kok sayang. Kemarin seharian abang tiduran aja sayang"
Hmm baiklah, kurasa aku sudah memberikan perhatian yang cukup untuknya meskipun saat itu hanya bisa kulakukan dari tulisan.
Aku tidak bisa melakukan aksi selain mengiriminya pesan.
Betapa sakitnya menjalani Long Distance Relationship.
Ketika rindu menerpa, hanya bisa memandangi fotonya.
Ketika sakit, hanya mampu memperhatikannya dari kejauhan tanpa bisa melakukan semuanya dengan tangan ini sendiri.
Semoga Allah Swt dan Bumi segera berpihak pada Hubungan kami, agar tak ada lagi jarak berjauhan yang memisahkan antara aku dan dia.
Aku tak mampu, sungguh.
Ternyata perubahanku terlihat oleh orangtuaku. Seperti mereka ikut merasakan ada yang aneh antara aku dan Nazril saat itu, mama pun beberapa kali menyinggung tentang hubunganku dengan Nazril.
Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba2 saat aku sedang masak di dapur, mama melontarkan pertanyaan "Hubungan kamu dengan Nazril gimana?"
Biasanya dengan santai aku menjawab "Baik2 saja ma", tetapi kala itu jantungku deg2an, mulutku terasa terkunci tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, aku terdiam beberapa saat dan mencari kalimat yang tidak mengundang rasa curiga mama pada hubungan kami yang mulai tidak terkendali saat itu.
"Baik ma, cuma dia lagi sibuk aja sama pekerjaannya disana".
Lalu aku diam setelah mengatakan itu, dalam hati berharap agar mama tak melanjutkan pembahasan tentang kami dan tidak menanyakan hal2 lain yang akan semakin membuatku kaku saat itu.
Dan Alhamdulillah mama tidak bertanya lagi. Mungkin jawabanku saat itu cukup meyakinkannya bahwa Nazril memang sibuk dengan pekerjaannya.
Dan hal itu tidak terjadi sekali, beberapa kali mama menanyakannya tapi pada hari yang berbeda2. Padahal sebelumnya, mama tidak pernah sekepo itu jika tidak aku yang memulai membahas tentang Nazril.
Mungkin itulah kelebihan dari orangtua, ia ikut merasakan apa yang aku rasakan. Seperti ikatan batin. Maa syaa Allah.
Maafin tya ma, udah berbohong tentang perasaan tya yang sedang tidak baik2 saja seperti yang terlihat, Batinku dalam hati
Aku cuma tidak ingin melibatkan orangtua dalam hal2 yang tidak perlu mereka pikirkan.
Mereka cukup tau bahwa aku bahagia, itu saja.
Biarlah rasa sedihku hanya aku yang menyimpannya.
Kini aku lebih banyak mengisi hari2ku dengan kegiatan2 positif.
Selain pergi menghadiri Majelis Ta'lim, terkadang juga aku mencoba untuk menghafal ayat2 Al-Quran dirumah, untuk bekal ku ketika di akhirat nanti.
Walau tak banyak ayat yang kuhafal hingga sekarang ini, tapi minimal aku tetap berusaha untuk membacanya setiap hari dan berharap sedikit demi sedikit bisa hafal. Aamiin Allahumma Aamiin
Mengingat hal itu, aku jadi teringat akan perjanjian antara aku dan Nazril, ia mengajakku untuk menghafal Surah Ibrahim.
"Eh yng, kita hafal surah Ibrahim yuk. Ayatnya bagus yng" Ucapnya saat kami bertelpon beberapa bulan lalu.
"Yuk. Tp kasih tya waktu ya yng. Soalnya tya juga lagi ngehafal ayat lain". Ucapku ...
Aku memang selalu menuruti keinginannya, aku tak mampu untuk berkata "Tidak" padanya, dan selagi semua keinginannya itu adahal hal2 yang positif, kenapa harus menolak kan?
Lagipun permintaannya kala itu adalah kebaikan untuk kami, menghafal ayat Al-Quran.
Karena kami juga sadar, ketika kelak kami punya anak, mereka harus di didik berlandaskan ilmu Agama yang kokoh, dan kami yang kelak menjadi orangtua adalah sekolah pertama bagi anak2 kami kelak.
Maka dari itu, ketika mendengar permintaan Nazril tersebut, aku sangat senang sekali, karena pemikiran kami sejalan.
Aku menginginkan suami yang mau sama2 belajar untuk terus mendekat pada Allah Swt, dan Nazril adalah orangnya. Maa syaa Allah Tabarakallah
Saat sekarang ini, kami memang jarang sekali komunikasi.
Ia hanya mengirimiku pesan sesekali, dan aku juga mencoba untuk tidak terlalu memikirkan hal itu.
Karena ku yakin, Jika dia adalah yang Allah Swt tetapkan untukku, sejauh apapun ia pergi, bersama siapapun ia saat itu , pasti Allah Swt tetap akan datangkan ia pada ku di waktu yang sudah di tentukan Nya.
Tugasku hanya meminta hatinya pada sang pemiliknya, Allah Swt.
Mungkin ini adalah situasi yang genting di setiap hubungan, tanpa adanya komunikasi yang baik, akan ada banyak hal yang terjadi. Orang ketiga misalnya?
Sore itu aku sedang berada di Rumah Sakit, opaku dirawat lagi untuk yang kesekian kalinya. Karena memang keadaan beliau yang masih lemah dan harus di rawat inap.
Suasana sepi Rumah Sakit begitu membuatku bosan, ku check Whatsapp , tak ada siapapun yang mengirimku pesan, hanya beberapa pesan Di Grup yang tidak ingin kubaca karena isinya tidak terlalu penting menurutku.
Kubuka Facebook yang sudah sangat lama tidak kugunakan, aku bahkan tidak punya aplikasinya, aku hanya login melalui browser.
Aku kesulitan untuk mengakses facebook saat itu, mungkin karena signal di Rumah Sakit kurang memadai, berulang kali ku refresh agar aku bisa login, dan beberapa menit kemudian berhasil lah aku masuk ke beranda facebook.
Kulihat ada notifikasi pesan, langsung saja ku klik dan terpampang jelas nama seseorang yang tidak asing bagiku, mengirimiku pesan 5 menit yang lalu.
"Hai Tyara , Apa kabar?" Tulisnya.
Bagaimana bisa ketika aku login facebook yang sudah lama tidak ku gunakan dan disaat yang bersamaan pula ada yang mengirimiku inbox, seakan ia tau aku akan online saat itu?
Siapa dia? Pada penasaran?
Dia adalah tokoh utama di Blog pertamaku.
Yang sudah baca Blog ku dari awal pasti tau siapa yang ku maksud.
Ya benar, dia adalah AF, pria yang pernah ku kejar cintanya.
Dan dia juga pria yang memohon padaku agar aku bisa kembali seperti awal, mencintainya tanpa tapi.
Entah apa yang membuatnya menghubungiku lagi saat itu, aku bahkan sudah tidak berkomunikasi dengannya hampir 7 tahun. Sesekali dia pernah mengirimiku pesan di facebook, tapi tidak pernah kubalas.
Dan sekarang, dia mengirimiku pesan lagi?
Untuk apa?
Aku yang saat itu lagi bosan, ku coba untuk membalas pesannya dan juga aku ingin tau, kenapa dia menghubungiku setelah sekian tahun kami tidak komunikasi.
"Alhamdulillah baik" balasku...
Mungkin saat itu dia sedang online, karena kulihat ada pesan masuk lagi ke facebook ku setelah ku refresh.
Aku tak bisa melihat status online nya karena aku mengakses dari browser, jadi satu2nya cara untuk mengetahui apakah ada balasan lagi, ya refresh saja facebooknya.
Ternyata saat ku refresh, ada balas lagi darinya.
"Alhamdulillah dibalas juga, kirain udah gak pernah mau balas lagi. Tyara udh bercadar ya sekarang?".
Sudah lama aku telah mengganti photo profile ku dengan gambarku yang bercadar, mungkin maka dari itu menanyakan hal itu padaku. Karena sepengetahuan dia, aku dulu tidak menggunakan hijab, apalagi cadar.
Ya tentu saja, 7 tahun yang lalu adalah terakhir kami bertemu, dimana aku masih belum terlalu mengenal tentang syariat ilmu agama yang syar'i.
Tapi setiap manusia pasti berubah bukan?
Ada yang berubah menjadi lebih baik, adapula yang berubah menjadi tidak baik. Itu adalah pilihan masing2 orang. Jalani saja sesuai kemampuan masing2.
Dan untuk diriku pribadi, aku lebih memilih berubah kejalan yang lebih di Ridhoi oleh Allah Swt, dengan berhijab aku tidak bisa melabelkan bahwa diriku sudah baik, karena Islam memang mewajibkan untuk menutup aurat.
Aku hanya mencoba untuk menjalankan perintah Allah Swt, dan mencari Ridho Nya, urusan dipandang baik atau tidaknya, biarkanlah itu menjadi hak setiap orang.
Aku juga belum bercadar seperti yang AF tanyakan, aku hanya sedang berupaya untuk beristiqomah agar suatu waktu bisa menggunakannya tanpa melepasnya lagi.
Kubalas pesannya dengan singkat :
"Oh hehe blm. Tp kalau hijab udh lama Alhamdulillah"
Tak ada niat untuk menanyakan kabarnya , tak ada niat untuk lebih welcome atau semacamnya, karena aku tidak ingin dia mengartikan balasan chat ku adalah lampu hijau untuknya menghubungiku lagi.
Posisinya juga aku sudah punya calon suami yang sedang berusaha keras di Sumbawa untuk menghalaliku.
Aku tidak ingin membuat Nazril kecewa, aku tidak mau mengkhianatinya walaupun sebenarnya AF cuma mengirimiku pesan standart yang berisikan "Apa kabar".
Tapi tetap tidak bisa!!! Aku tak mampu untuk mendua dibelakang Nazril, bahkan untuk chatingan dengan pria lain pun aku takut.
Walau sebenarnya Nazril tidak akan tau jika aku berkomunikasi dengan AF. Tapi bukankah Allah Swt Maha tau?
Aku punya prinsip "Apa yang kita lakukan pada orang lain , itu yang akan orang lain lakukan pada kita".
Jadi seperti, jika aku terus2an membalas pesan AF walau awalnya cuma menanyakan kabar, pasti lama kelamaan akan berlanjut , entah itu flashback atau semacamnya.
Nah, bisa jadi disaat bersamaan juga Nazril berkirim pesan pada seseorang di masalalunya. Dan aku tidak ingin itu terjadi.
Sudahlah, aku sudah cukup yakin dengan Nazril ku, aku sudah memilihnya untuk menjadi landasan cintaku yang terakhir, aku tidak ingin jatuh cinta pada orang lain apalagi seseorang dari masalalu ku yang sudah mati2an kuberjuang untuk melupakannya.
Karena situasi hati yang sedang bosan, ditambah lagi aku sedang tidak intens berkomunikasi dengan Nazril, makanya aku mau balas pesan dari AF dan berlanjut , meskipun tidak ada niat sedikitpun untuk kembali mengenang nya, ini pure hanya karena menghargainya sebagai teman di masalalu.
AF : Tyara dimana sekarang?
Me : Oh di Medan nih
AF : Oh udah di Medan lagi? Kirain di Mana gitu.
Tyara udah nikah ya? Kok gak ngundang?
Me : Belum nikah. Kamu dimana sekarang?
AF : Oh aku baru aja sampai di Padang. Kemarin sempat di Jakarta , ditempat mama.
Tyara kerja dimana sekarang?
Me : Udah enggak kerja lagi
AF : Boleh minta nomer Hp Tyara ?
Me : Untuk apa?
AF : Untuk ngabarin lah. Kalau boleh sih. Nomer Wa juga ya, yang aktif kalau bisa.
Saat itu kuberikan nomer Whatsapp ku saja, aku masih tidak mengerti kenapa ia menghubungiku.
Ia mengatakan juga ingin menelpon ku.
"Nelpon? Untuk apa?" Ucapku heran...
AF : Ya mau ngobrol aja Tyara. Kan udah lama juga enggak komunikasi dengan tyara.
Tak kubalas lagi pesannya. Aku logout akun Facebook ku saat itu, dan AF pun tak langsung mengirimku pesan di whatsapp, walaupun sudah pasti dia telah nge save nomer yang kuberikan padanya tadi.
8 Oktober 2019, 21.42 WIB
(1 panggilan tak terjawab)
8 Oktober 2019, 21.57 WIB
(1 panggilan tak terjawab)
Lalu ada 2 pesan yang belum dibaca dari nomer yang belum tersave di Whatsappku , berisikan :
-Test
-Test
Saat itu aku sedang tidak memegang Handphoneku, sengaja aku meninggalkannya dirumah karena aku tau tidak akan ada yang menghubungiku untuk hal yang cukup penting.
Dan ketika aku mengecheck Handphoneku , langsung saja kulihat panggilan nya yang terabaikan dan pesan nya yang menanti untuk kubaca.
"Siapa?" Balasku singkat ...
Lalu terlihat 2 garis centang yang tadinya masih berwarna abu2 kini sudah berwarna biru, menandakan pesanku telah dibaca, terlihat juga status online nya, dan langsung saja terpampang "Sedang Mengetik"
Tidak lama kemudian, masuklah pesan berikutnya :
"Ini AF , Tyara udah pulang dari Rumah Sakit? Sekarang lagi dimana?"
Oh ternyata dia yang menelponku tadi, batinku...
Me : Oh nomer kamu . Sudah, ini dirumah.
AF : Iya ini nomer aku ya. Boleh nelpon gak?
Me : Maaf aku mau sholat Isya dulu ya (alasan)
Sebenarnya bukan sepenuhnya alasan sih, kebetulan saat itu aku memang belum sholat Isya, padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 Malam.
30 menit kemudian, selesai aku sholat dan saat itu aku sudah berbaring di atas tempat tidurku yang nyaman, aku berniat untuk tidur, bahkan aku tidak benar2 menunggu telpon darinya.
Saat sudah kuletakkan Handphoneku di samping bantalku, lalu tiba2 berbunyi dering nada tanda ada panggilan masuk dari nomer AF
Kuangkat , dan terdengar suara serak nya yang berada di ujung telpon mengatakan :
"Hallo Assalamualaikum Tyara"
Kujawab :
"Hallo Waalaikumsalam"
Berlanjut :
AF : Apa kabar tyara? Udah lama ya kita enggak ngobrol kaya gini.
Me : Baik Alhamdulillah. Iya terakhir nelpon beberapa tahun yang lalu kaya nya.
AF : Wah iya bener. Sudah lama sekali. Tapi suara tyara ga berubah ya, masih sama kaya yang dulu.
Me : Hehe... (ga tau mau ngomong apa lagi)
Akhirnya ia yang pertama membuka topik pembicaraan malam itu, berlanjut dengan bercerita tentang beberapa teman2 SMP dulu yang sekarang telah menikah.
AF : Eh Tyara tau gak, si N.... sudah nikah loh , di Padang sekarang.
Me : Oh ya? Alhamdulillah. Si S... malah udh 2 anaknya.
AF : Iya ya haha , ga terasa ya padahal dulu masih main sama2, eh sekarang udah pada nikah aja.
Tyara kapan nikah?
Aku sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk membahas pernikahan pada saat itu, lagi pula untuk apa dia menanyakan itu?
"Doakan saja ya hehe..." Jawabku dingin
Lalu seperti tidak ingin merubah topik pernikahan, ia pun mengatakan :
AF : Oh gitu ya hehe Nanti kalau nikah, jangan lupa ngundang ya...
Me : In Syaa Allah. Eh tapikan kamu di Padang...
AF : Pasti tetap datang kok walaupun lagi di Padang..
Me : Oh okay. In syaa Allah
Lalu aku tak mengerti apa tujuannya menanyakan hal2 yang menurutku tidak pantas untuk dipertanyakannya.
AF : Emang Tyara udah siap menikah?
Me : Loh kenapa emang? (Tanyaku bingung)
AF : Gpp. Boleh gak kalau dalam waktu dekat ini aku kerumah kamu? Rumah tyara masih yang lama kan?
Me : Hah? Ngapain? Iya masih yang lama. Bukannya kamu bilang , kamu lagi di Padang ya?
AF : Iya di Padang sekarang, cuma kan bisa aja ntar langsung ke Medan.
Aku pengen ketemu orangtua kamu .
Me : Maksudnya gimana sih?
AF : Aku tanya lagi ya. Tyara udah siap nikah?
Me : In Syaa Allah Siap...
Jelas saja aku jawab "Siap", lah kan aku memang sedang berada di hubungan serius dengan calonku yang saat ini masih berada di Sumbawa, Nazril.
Kami memang ingin menikah, tentu saja kukatakan pada AF bahwa aku siap untuk menikah, tetapi bukan dengan nya, melainkan dengan Nazril ku, seseorang yang selalu ku minta hati nya pada sang
pencipta , Allah Swt.
AF : Alhamdulillah kalau sudah siap ...
Nanti aku datang ke Medan bareng kakak ku ya ...
Me : Bahas apaan sih? Udh deh, jangan kebanyakan ga jelas gitu...
AF : Hehe ... Tyara Tyara ...
Me : Udah dulu ya, udah malem.
AF : Oh iya udah malem, kamu mau langsung tidur?
Yaudah jangan bergadang ya.
Eh tapi ngapain aku ingatin ya, aku kan bukan siapa2 kamu...
Me : Hehe.. iya, ingatin sebagai teman gpp. Assalamualaikum...
AF : Oh iya teman ya , oke deh. Waalaikumsalam ...
Terlihat jelas apa maksud dan tujuannya.
Ada yang tidak beres di balik kalimat2 ungkapannya nya tadi.
Apa kalian juga merasakannya?
Aku sudah pernah berada di fase itu, sudah berulang kali.
Aku cukup jeli untuk menangkap signal signal kode dari orang yang berusaha untuk mendekatiku.
Dengan sengaja di akhir kalimat ku katakan padanya "mengingatkan sebagai teman", agar dia sadar bahwa kehadirannya saat itu tidak lebih dari sekedar teman, tidak akan.
Aku bisa saja dengan mudah mengatakan padanya bahwa aku sudah punya calon suami, meskipun belum terlihat sosoknya yang nyata pada saat itu.
Hanya saja AF tak pernah menanyakan "Apakah aku sudah punya calon" , jadi untuk apa aku memberitahunya? Aku tidak ingin AF merasa bahwa aku terlalu kepedean , pertanyaan2 itu hanya tak tik nya agar aku mengungkapkan bahwa aku sudah ada yang memiliki atau belum.
Lagi pula pun aku belajar dari pengalaman, tidak perlu mengumbar apapun yang kita punya, termasuk calon suami.
Biar saja semua orang berpikiran bahwa aku belum punya pendamping, padahal teman seusiaku seharusnya sudah pada menggandeng calon atau bahkan suami.
Menurutku merahasiakan semua itu lebih baik daripada harus mengumbarnya kesana kemari, karena di dalam Agama ku, Islam , banyak sekali penyakit hati yang diderita banyak manusia termasuk Hasad .
Hasad (dengki) merupakan penyakit hati yang berbahaya bagi manusia, karena penyakit ini menyerang hati si penderita dan meracuninya, membuat dia benci terhadap kenikmatan yang telah diperoleh oleh saudaranya, dan merasa senang jika kenikmatan tersebut musnah dari tangan saudaranya.
Rasulullah shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda :
استعينوا على إنجاح الحوائج بالكتمان، فإن كل ذي نعمة محسود
” Bantulah KESUKSESAN hajat-hajat kalian dengan MERAHASIAKANNYA, karena setiap orang yang memiliki nikmat itu akan menjadi sasaran HASAD orang lain. [Silsilah Shohihah: 1453].
Hadist ini adalah alasan terkuatku untuk tidak mengumbar apapun kepada siapapun kecuali pada orangtuaku dan keluarga sahaja.
Setelah AF selesai menelponku, aku langsung tidur dan tak lupa membaca beberapa Doa yang dianjurkan sebelum tidur, sekaligus memohon kepada Allah 'Azza Wa Jalla agar rindu ku akan pada kehadiran Nazril disetiap detik ku segera terwujud. In syaa Allah, Aamiin Allahumma Aamiin
22 Oktober 2019, 5.25 AM
Dia : Pagi Sayang, udah bangun?
Me : Sudah sayang, cepat bangun kah?
Dia : Iya hehe, aneh ya?
Me : Gatau, kan gak barengan.
Dia : Kalau udah barengan kan enak ya.
Me : Enak dong. Jam segini diajak kepasar nemenin belanja
Dia : Tya sayang sama abang?
Me : Kok nanya kaya gitu?
Dia : Gpp...
Di hari yang sama, 9.36 AM
Dia : Udah sarapan sayang? Lagi ngapain sekarang?
Me : Iya sudah sarapan. Abang sarapan pake apa tadi?
Dia : Pake sayur sayang
Me : Selain sayur, suka apa aja?
Dia : Suka kamu lah sayang
Me : Tya kan bukan sayur :( atau tya kayak sayur ya?
Dia : Iya kayak sayur, pengen abang makan hahaha
Eh, Abang suka apa aja yg kamu masakin buat abang.
Me : Emang apa aja yg udh pernah tya masakin utk abang? Kan belum ada :(
Dia : Baru Rendang aja sih haha
Me : Itupun gak enak :(
Dia : Enak sayang, abang sampai berhari2 makan pakai rendang buatan adek, abang simpen bumbunya dikulkas hahaha
Rasanya enak, manis kayak yang buat
Apapun yang kamu buat, abang pasti suka. Asal jangan racun aja ya sayang
Me : Yaudah sayang, kerja gih, tya juga mau siap2 pergi nih.
Dia : Mau kemana sayang?
Me : Mau nyari baju bayi
Dia : Memang udah nyari dari sekarang sayang?
Me : Bukan utk kita loh haha
Yakaliii nyari dari skrg bang😂😂😂😂😂😂😂😂
Itu ntar barengan sama abang nyarinya.
Dia : Wkwkwk kirain.... Adek bahagia kita kayak gini?
Me : Kayak gini gimana bang?
Dia : Ya kayak gini, bercanda pagi2
Me : Emang tya pernah gak bahagia sama abang? Tya selalu bagiaaaaa kalau sama abang.
Dia : Yaudah sayang, makasih ya, abang kerja dulu. Love you❤
30 Oktober 2019 , 9.03 AM
Dia : Eh yank tau gak?
Me : Apa tuh?
Dia : Semalam adek di omongin sama tante abang
Me : Kenapa di omongin?
Dia : Pengen lihat adek katanya. Abang lihatin foto nya adek.
Me : Trus? Bukannya udh pernah diliatin ya?
Dia : Tante abang yang satunya ga pernah lihat.
Tante abang yang udah lihat adek, cerita ke tante abang yang belum pernah lihat adek.
Trus tante yang belum pernah lihat, nanya mana orangnya.
Me : Yang telponan sm tya itu bukan?
Dia : Iya itu sayang.
Tiba2, penyakit tidak percaya diriku kambuh, mengingat kami akan bertemu dalam beberapa bulan kedepan, aku pun mulai merasakan diriku semakin down, meskipun bercampur dengan rasa yang sangat bahagia, namun ada sedikit rasa risih dan takut bahwa aku tidak sepenuhnya masuk kedalam kriteria yang Nazril cari selama ini.
Dan seperti insting batin, ia mengirimiku foto lama ku yang pernah kuposting di Akun Facebook ku, foto semasa jaman sekolah dahulu. Mengisyaratkan bahwa sebenarnya ia bisa menerima apa adanya diriku.
Terlihat sosok diriku yang berdiri tegak disamping temanku, dengan senyuman merekah dan terlihat memakai behel (sampai sekarang pun masih pakai haha), dengan jilbab super alay namun itu adalah pertanda gaul pada saat itu.
Aku tak tau apa alasannya ia mengirimiku foto tersebut, dan selang beberapa menit kemudian, ia mengirimiku beberapa foto lagi, dan yang paling buat kaget, dengan sengaja ia meng Crop fotoku hingga terlihat jelas muka kucel setelah seharian belajar, yang diambil di lorong sekolahan, namun sudah tidak terlihat lorong nya karena ia meng Crop nya.
Astagaaaaa, itu adalah foto terburuk yang pernah ku posting haha
Karena di jaman itu, aku belum mengenal yang namanya skincare, benar2 kucel.
Setelah mengirimkannya padaku, tak lupa ia kembali menuliskan kalimat :
"Percaya diri dong sayang, foto kayak gitu aja pede, kenapa sekarang jadi enggak pede?"
Sontak saja aku terkejut, karena itu adalah postingan beberapa tahun lalu, langsung saja aku balas pesannya :
Me : Ih stalking facebook tya ya?
Dia : Engga ada yang stalking sayang.
Ada yang ngirimin ke abang.
Imut banget ya sayang hehe
Me : Ih kayak gitu imut? Aib tuh haha
Dia : Aib apaan?
Me : Masih mau kan sama tya? Atau mau cari yang lain lagi?
Dia : Enggak, ngapain cari yang lain. Cukup ini aja.
Janji gak akan cari yang lain, Cukuplah kamu Tyara Bellia aja jadi Kekasihku, Calon Istriku.
Me : Iya okee. Udah ah, jangan iseng gitu kirim2 foto aib tya.
Dia : Hahaha abang seneng gangguin adek.
Jangan cepat marah ntar kalau udah sama abang ya, tiap pagi abang gangguin siap? Haha
Kadang abang suka buat marah gitu, ntar kalau adeknya udah marah, abang suka peluk.
Dulu, Ummi sering abang buat kayak gitu.
Ummi marah, trus ntar abang peluk, eh malah abang yang di cubit haha
Sampe akhirnya ummi gak marah lagi karena udah tau abang usil.
Sekarang udah gak bisa buat marah ummi dan peluk ummi☹️
Me : Iya yng, Brrti tya bakalan ngelanjutin ummi ya yng.
Dia : Iya sayang, kamu cahaya baru dalam hidup abang.
Adek peluk mama gih.
Dulu abang sering meluk ummi tiba2, sampe ummi heran.
Wallahi tya, mending adek lakuin itu dari sekarang selagi ada, kita tau semua bakalan pergi, dan surga adek ada di mama dan papa untuk sekarang ini.
Abang udah gak ada ummi dan abi sekarang, kangen mau meluk mereka, masakin makanan untuk ummi, beliin sesuatu untuk ummi.
Dulu kalau abang pulang kerja, trus liat ada jual makanan jaman dulu tuh kayak kue pisang , agar2, pasti abang beliin untuk ummi, karena ummi suka, dan dibawain itu aja ummi udah senang banget.
Me : Maa Syaa Allah sayang, tya jadi ikutan sedih baca ceritanya.
Tya makin sayang sama abang.
Dia : Iya sayang, adek harus jadi anak yang berbakti ya, jangan karena abang dan prasaan adek ke abang, buat adek gak ngelakuin apa2 buat mama dan papa ya sayang.
Ini adalah salah satu alasanku mencintai Nazril dengan sangat.
Belum pernah aku dapat pesan yang begitu dalam maknanya, dan membimbingku untuk terus berbakti pada kedua orangtua ku.
Nazril selalu memberikan energi positif didalam hidupku, semenjak ia hadir, aku ngerasa dia selalu ada untuk hal2 kebaikan.
Terimakasih Ya Rabb.
7 November 2019, 9.59 AM
Dia : Bidadari ku, bangun.
Sinari hidupku ...
Bangun sayang ...
Membaca isi pesan seperti itu memang mampu membuatku semakin semangat untuk beraktifitas.
Aku selalu ingin melibatkan Nazril disetiap sudut kehidupanku, termasuk dalam menulis Blog.
Aku sering menanyakan pendapatnya tentang Blog yang ku tulis, berharap ia ikut berkontribusi, karena mau tidak mau dia adalah peran utama di beberapa Blog terakhirku, dan aku berharap dia juga adalah bagian dari kisah nyataku kelak.
Sebagai suami, dan ayah dari anak2 ku.
Me : Yng, di Part terakhir Blog tya, tya cantumin foto bagus gak ya sayang?
Dia : Foto apa sayang?
Me : Foto ticket pesawat abang? Haha
Dia : Foto Nikah kita aja ntar yng.
Trus pasti semua pembaca kaget, jadi surprise gitu.
Orang2 juga pasti pada bilang "Wahhhh akhirnya"
Gitu sayang.
Trus di jadiin novel sama penulis terkenal, dan di buatin film hahaha.
Me : Yaudah foto nikah aja berarti ya haha
Wah film, Aamiin sayang.
Dia : Iya sayang, sekalian kita buat Vlog hahaha
Begitu indah gambaran yang ia sugestikan padaku saat itu.
Hati ini semakin jatuh setiap kali ia menjanjikan sebuah kebahagiaan untukku.
Sampai aku lupa bahwa Allah lah sebaik2 perencana.
Aku terlalu ambisius untuk hal yang belum tentu nyata.
Apapun bisa terjadi jika Allah berkehendak, apapun bisa terbengkalai jika Allah berkehendak pula.
Hingga pada akhirnya harapanku sirna, terbang terbawa angin kencang entah kemana.
Pernah kucoba mengejar kembali sebuah harap yang sudah mulai samar, namun aku terjatuh berulang kali, melukai jiwa dan raga, melukai setiap sudut hatiku, ngilu rasanya saat mengetahui dia orang yang kucintai dengan sangat dalam, diam2 sudah tak menaruh harap pada pertemuan yang sudah diujung jalan.
Hanya tinggal selangkah lagi namun itu adalah langkah yang sulit baginya.
Aku seperti layangan putus, yang tidak tau arah.
Hanya pasrah terhembus angin, ingin berbalik haluan pun percuma, aku sudah tidak punya rencana apa2 lagi selain menjumpai dia yang kukira adalah jodoh terbaikku.
Disini kisah pahit itu pun dimulai ...
20 November 2019, 6.50PM
Nazril : Sayang, Abang mau ngabari nih. Abang lagi ada kerjaan. Jangan telat makan ya.
Me : Terus? Ga pulang?
Nazril : Pulang. Bentar lagi Bu boss. Kan harus sering2 ngabari biar gak di omeli lagi.
Me : Iya, memang.
Nazril : Oke masih judes dan pedas kata katanya pemirsa ...
Masih di pantau dulu.
21 November 2019, 1.15 PM
Setelah berjuang untuk mengurus beberapa berkas yang akan aku unggah untuk mengikuti seleksi di Salah satu Instansi Kementrian saat itu, akupun berniat untuk bermanja2 dengan sang kekasih.
Kebetulan, ada beberapa file yang masih ku usahakan pada siang itu, namun aku sudah tidak sanggup mengerjakannya sendirian karena mataku sudah sangat berat menahan kantuk yang sudah ku tahan beberapa hari.
Dan, karena kutau Nazril sang pujaan hati itu jago dengan masalah2 dokumen apalagi dengan sistem online, langsung saja aku chat dia dan meminta pertolongannya untuk bantu menyiapkan dokumen2ku.
Me : Abang lagi kerja? Bantu buatin tya surat bisa?
Nazril : Iya masih di tempt kerja sayang. Ya sayang, surat apa?
Me : Iya justru itu haha. Kalo lagi ditempat kerja kan bisa bantu😁
Nazril : Iya mana?
Me : Abang bukain aja coba dari web nya.
Nazril : Iya, mana web nya?
Lalu, kulihat ada notifikasi ia mengirimku emoticon Love "❤", dan akupun bahagia.
Buru2 kubuka pesan nya, dan ternyata love nya mendadak dihapus.
Lantas, bagaimana sikapku?
Begini, kenapa harus dihapus?
Itu akan membuatku berasumsi yang tidak2.
Dan tentu saja kubahas perihal ini sampe tuntas dan berujung pertengkaran.
Aku yang saat itu benar2 sedang capek karena dokumen, dan sekarang Nazril menambahkan energy negatif di siang hari yang semakin membuat suasana panas .
Me : Love nya dihapus hahahhahahahahhaha, salah kirim? Hahaha
Seakan dia tak ingin membahas, ia hanya membalas pesanku seperti ini,
Nazril : Mana Web nya? ❤
Dengan sengaja ia mencantumkan emoticon Love, sebagai pengganti emoticon yang telah dihapusnya tadi, berharap aku bisa tenang dan tidak mempertanyakan nya lagi?
Me : Udah gausah. Salah kirim. Okedeh
Nazril : Yank abang masih kerja , adek jangan kayak gini dong.
Me : Ya kenapa dihapus? Salah kirim kan?
Nazril : Nuduh nuduh kayak yang udah lalu aja. Salah pencet tadi .
Me : Biasanya juga gapernah hapus2 love. Walaupun salah pencet .
Nazril : Jangan tuduh2 abang yang aneh2 please ok. Abang udah capek di tempat kerja, bukan ini yg abang mau.
Udah mumet sama kerjaan, jangan nambah lagi dong , ok sayang . Jangan besar besarin kesalahan kecil kayak yang lalu, masalah kecil aja jadi berantem, abang capek berantem, masalah kecil yang gak seharusnya jadi besar.
sama sama udah dewasa dong sayang.
Masih dengan rasa kesal, ditambah ada kalimat "Yang lalu".
Me : Yang lalu? Apa maksudnya?
Nazril : Abang salah pencet tadi tombol love nya, gak cocok lagi ngobrol serius gini tiba2 kepencet love makanya abang hapus.
Ya sifat kamu ini mirip banget sama yang lalu, suka nyalahin abang, suka banget permasalahkan hal hal kecil.
Tiba2, perasaan kesal yang tidak seberapa itu, yang niatan awalnya pengen manja dengan minta tolong buatin file, semua sirna hanya dengan kalimat "Yang lalu".
Aku bisa pastikan, setiap wanita TIDAK AKAN PERNAH DAN TIDAK AKAN MAU disama2in dengan orang lain apalagi seseorang itu dari masalalu pasangan kita sendiri.
Setuju ya?
Aku bahkan tidak berniat untuk bertengkar dengan nya apalagi tanggal pertemuan kami semakin dekat.
Ku balas pesan nya ,
Me : Oh gausah sama2in tya sama org lain. Tya gak suka.
Nazril : Yaudah jangan kayak gitu maknya.
Adek sendiri kan tau abang gak bisa, apalagi kalau kamu ngambek , suka kepikiran.
Dari dulu abang diemin abang berharap adek berubah.
Me : Masih kepikiran sama masalalu?
Sampe semuanya disangkutpautin gitu?
Nazril : Enggak
Me : Tya gasuka ada pembahasan org lain antara kita.
Apalagi dari masalalu.
Tya ga pernah ungkit.
Tapi abang yang mulai cari jalan untuk bahas.
Oke, yaudah.
Nazril : tuduh aja terus.
"Yaudah"?
Ok
Me : Iya yaudah
Nazril : Terserah
Me : Ternyata masih blm move on
Pake sama2in tya.
Setidaknya gausah sebut
Jaga perasaan orang
Nazril : Jaga perasaan?
Chat terakhirnya tak ku balas lagi.
Hanya ku buka, kubaca, dan ku tutup.
Demi Apapun, aku tidak bisa berdamai dengan kondisi saat itu.
Aku mudah untuk memaafkan biasanya, tetapi tidak untuk perkara masalalu.
Menurutku, definisi masalalu itu adalah orang yang pernah engkau cintai sebelum engkau melepaskannya.
Dan disaat engkau masih membahasnya, itu sama saja dengan engkau masih mengingatnya, dan itu menyakitkan sekali bagi seseorang yang sangat mencintaimu pada saat itu.
Harus dipahami, setiap wanita memiliki kadar cemburu yang berbeda2.
Dan mungkin aku adalah penganut rasa cemburu yang berlebihan.
Aku bahkan tidak ingin mengetahui seberapa jauh hubungan orang yang kucintai dengan masalalunya, meskipun itu terjadi sebelum kita saling mengenal.
Ini bukan salahku, ini tentang perasaan ku.
Ya, akulah si pencemburu itu.
Namun, satu hal yang harus diketahui juga, ketika aku sudah mulai tidak merasakan cemburu, itu berarti aku sudah tidak memiliki rasa yang kuat lagi.
Tak kusangka, aku benar2 tidak bisa berdamai dengan itu ...
Rabu, 27 Nov 2019, 21.50 PM
Terkadang ingin ku berteriak sekencang2nya berharap angin mampu membawa pergi amarah dan rasa kecewaku...
Namun, aku tak cukup mampu untuk melakukan hal2 seperti itu...
Entah aku yang tak bisa, atau kondisi yang memaksa harus tetap seperti ini...
Dalam diam ku, banyak sekali arti yang ingin ku beritahukan bahwa aku sedang tidak baik2 saja...
Aku tak cukup dewasa untuk menjadi dewasa seperti ini.
Dahulu, pikirku menjadi dewasa adalah hal terindah yang akan ku lalui.
Diiringi dengan ekspetasi yang dihiasi oleh kebahagiaan dan bertaburan dengan senyuman setiap hari ...
Namun nyatanya, yang kudapat hanyalah terjebak oleh masalah2 dipendewasaan diri.
Aku tak ingin mendewasa jika seperti ini pahitnya.
Aku tak ingin mendewasa jika aku akan lupa bagaimana caranya tersenyum tanpa beban.
Satu2nya caraku untuk tetap menikmati hidup hanyalah lewat tidurku.
Mimpi adalah hal terindah, dengan segala khayalan tinggi sebagai penghantar tidurku untuk mendapatkan mimpi yang indah ...
Mungkin semua orang akan tertawa padaku ketika mengetahui bahwa aku bahkan tidak menikmati bangun ku ...
Menjadi sendiri memanglah tak mudah.
Ingin berdua pun ku tak tahu dengan siapa.
-Tyarabellia-
1 Desember 2019
Sampai detik ini tiada tanda membaiknya hubungan yang sudah berusaha ku jaga.
Sedari kemarin, tak habisnya aku bertanya2 pada diriku sendiri, akan seperti apa akhir dari semua penantian ini?
Terlepas siapa yang merasa salah dan benar, aku tak perduli. Yang kuinginkan hanyalah sebuah kabar dan kepastian.
Agar aku tak menunggu dan menerka2...
Seharusnya Desember ini aku dan Nazril akan bertatap muka setelah sekian lama menjalani Long Distance Relationship.
Seharusnya, aku sudah mendapatkan E Ticket miliknya untuk sekedar memberitahu ku bahwa ia akan segera berada disini, disampingku.
Seharusnya , aku dan Nazril lebih banyak berkirim kabar untuk memastikan dan membuat rencana akan kemana saja kami habiskan waktu setelah ia benar2 mendarat di Kota ku, Medan.
Seharusnya...
Iya, seharusnya...
Terkadang kata seharusnya memang sangat menyakitkan dan dapat mengecewakan.
Karena apapun kalimat yang di awali dengan "Seharusnya", itu bermakna hal yang semestinya terjadi namun nyatanya tidak.
Janji yang semestinya ditepati, namun nyatanya di ingkari. Begitulah menurutku...
Ya, aku tau ini masih tanggal 1, aku masih punya beberapa waktu lagi untuk menanti kabarnya sebelum semua harapan sirna.
Hanya ada 2 kemungkinan .
Yang pertama, Nazril datang dan menghapus semua resah dan gundah dihatiku yang sudah bersarang berbulan2 bahkan bertahun lamanya, namun semua seolah pergi begitu kutatap mata nya dengan nyata. Itu inginku.
Dan kedua, ia tetap menghilang tanpa kabar, seakan semuanya telah selesai , tanpa adanya kata pamit, tanpa adanya penjelasan, tanpa kalimat yang ia ucapkan kepadaku?
Jangan! Jangan biarkan itu terjadi, jika dulu ia datang dan mengukir senyum di wajahku, kenapa sekarang harus pergi meninggalkan luka?
Jangan Nazril, semua tak semudah itu.
Mengakhiri tidak semudah memulai.
Datangmu adalah kejadian sederhana yang mampu membuatku merasa bahwa aku masih bisa bahagia.
Namun pergimu hanya akan membuatku hancur kembali, seperti dahulu.
Ingin ku kirimkan pesan singkat padanya, hanya untuk menanyakan bagaimana rencana selanjutnya?
Namun aku belum melakukannya, aku begitu kaku.
Jarak yang jauh dan waktu yang sudah mulai membuatku terbiasa tanpa kabarnya pun seakan mendukung bahwa aku tak perlu mengirimkannya pesan.
Namun, jiwaku masih meronta2 untuk mengetahui apa yang sebenarnya akan dia lakukan dengan keadaan perang dingin seperti ini?
Jika memang menurutnya semua sudah selesai, setidaknya katakan.
Dan jika semua masih berlanjut, aku hanya butuh pembuktian.
Oh Nazril, kekasihku. Aku merindukanmu...
Sempat terpikirkan olehku untuk berhenti berhalusinasi dan berimajinasi, namun tak bisa, ia seperti candu bagiku.
Aku tak bisa menghilangkannya begitu saja walaupun kami sudah tak berkabar selama 2 minggu.
Entah apa yang dilakukannya disana, entah apa yang dipikirkan nya tentang ku dan hubungan kami.
Apakah ia memikirkan hal yang sama? Ingin melupakan semua yang ada hanya karena kondisi yang semakin lama semakin memudar ini?
Atau bahkan ia tak pernah memikirkannya dan semua ini hanya omong kosong?
Entahlah, aku tak bisa menjawab pertanyaanku sendiri. Entah ...
Al Quran yang sedang kubaca telah basah diakibatkan oleh tetesan air mata ku yang sedari tadi mengucuri kedua pipiku.
Aku tidak bisa mencegahnya.
Ku usap dan kembali basah, begitu seterusnya.
Maafkan aku Ya Allah, yang terlalu mendesak Mu untuk segera mengabulkan semua permohonanku.
Padahal aku tau, dibalik semua ini, ada Bahagia yang telah Engkau siapkan untukku, Hamba mu yang masih menunggu.
Sudahlah hati, engkau sudah begitu terluka.
Mundurlah, harapmu sudah tiada.
Tangismu hanya akan membanjiri kenangan indah kemarin.
Kuburkan lah saja, kubur sedalam2nya mimpi mu untuk hidup bersamanya.
Aku menangis terisak saat menuliskan ini.
Aku begitu terpuruk, sakit, hatiku sangat perih.
3 Desember 2019 , 07.03 AM
Pagi ini aku terbangun dan mencoba mengingat mimpi yang kualami tadi.
Aaahhhh, dingin sekali pagi ini...
Sisa hujan malam tadi masih tersisa di ranting2 pohon mangga di depan rumahku.
Kubuka jendela kamarku dan ku hirup udara pagi dan aroma tanah yang khas.
Tak banyak yang kulakukan, hanya berdiam diri di kamar dan mata menatap keluar jendela yang bertuju pada langit indah ciptaan Allah 'Azza Wa Jalla.
Aku sangat suka menatap langit, selain indah dan membuat nyaman, langit juga adalah satu2nya yang sering ditatap oleh Nazril, dan aku berharap pagi itu, ia sedang menatap langit, sama seperti ku.
Meski raga terpisah oleh jarak yang cukup jauh, namun mata ada ditatapan yang sama, yaitu langit Allah 'Azza Wa Jalla.
Dan masih dengan tanpa kabar, ku berani kan untuk menanyakan sebuah kepastian yang aku sudah prediksi jawabannya akan sangat mengecewakan.
Namun, aku tetap ingin semuanya jelas, tidak ada yang gantung.
04 Desember 2019, 5.31 PM
Tepat dimana H-10 kami akan bertemu, disaat itu pula ia memutuskan untuk tidak jadi datang ke Medan.
Seketika tanganku bergetar saat membuka pesannya, darahku mengalir dengan cepat seperti sedang menerima berita bencana.
Iya benar, ini adalah becana bagi hatiku.
Lautan biru hatiku yang semulanya tenang dan sesekali berombak kecil nan indah, kini terguncang dan mengakibatkan ombak besar serta mampu menenggelamkan tebing hatiku, dan hancur sudah semuanya.
Nazril : Abang enggak bisa datang, abang baru pindah tempat kerja. Jadi enggak bisa ditinggalin.
Dengan usaha sekuat tenaga, aku berusaha santai menanggapinya meskipun kutau badai akan datang, air mata sudah berada tepat disudut mataku, dan akan terjatuh dengan sekali kedipan saja.
Me : Jadi Engga datang nih?
Dia : Iya, enggak bisa.
Sudah, hanya sebatas itu ia membatalkan segala rencana yang sudah tersusun rapi.
Air mata yang tertahan disudut mataku, sudah berpindah tempat ke pipi dan mengalir deras hingga membasahi baju serta handphone yang tengah ku genggam.
Ia tidak mengatakan kalimat perpisahan, tetapi aku cukup bisa menangkap apa makna dari kalimat nya, mungkin ia tidak ingin membuatku semakin terpukul dengan kata2 putus, padahal aku tau, Putus adalah inginnya saat itu.
05 Desember 2019, 6.23 PM
Me : Yaudah, berarti maunya gimana? Tya pergi?
Nazril : Abang gak tau.
Me : Iya gpp bang, tya paham.
Yaudah bang, mungkin abang ga mau ngasih keputusan.
Gpp, tya aja yang sadar diri.
Jujur, tya sedih kali, tya kecewa bang.
Tya cuma mau bilang makasih ke abang, yang udh baik sama tya, udh pernah jadi alasan tya bahagia untuk beberapa bulan ini.
Tya pikir kita bisa sejauh apa yang udh pernah kita bicarain.
Yaudah bang, bahagialah selalu ya.
Maafin tya.
Tya kan memulainya sama abang baik2, kalo mau diakhiri baik2 juga. Assalamualaikum bang.
Tya kan memulainya sama abang baik2, kalo mau diakhiri baik2 juga. Assalamualaikum bang.
Itulah chat terakhirku dengan Nazril yang kusebut namanya disetiap doaku, yang kuharapkan kehadirannya bisa mengubah hidupku sampai aku tidak berada di Dunia ini lagi.
Tanpa balasan apapun lagi, semuanya telah selesai.
Aku bahkan tidak ingin tau apa alasan yang sebenarnya ia membatalkan pertemuan kami, itu hanya akan lebih menyakitiku.
Selalu ku Doakan agar setiap langkah nya dipenuhi dengan keberkahan dan selalu dapat Ridho dari Allah 'Azza Wa Jalla, meskipun kini kami tak bersama, namun ia pernah menjadi salah satu perbincangan hangat antara aku dan Rabb ku.
Aku bahagia melihatnya bahagia, ini adalah kalimat yang sulit untuk dimengerti .
Namun, sejak kepergian Nazril dari Hidupku, aku paham, bahwa kadar kebahagiaan seseorang tidak pernah bisa disamakan.
Doa terbaik selalu aku langit kan untuk Nazril Fahrezi, semoga kelak akan dipertemukan dengan sosok yang mampu membuatnya mengerti bahwa mencintai itu memang harus berkorban.
13 Desember 2019
Dengan lantang dan bangga nya ia meng-upload instastory dengan mengatakan "Hari yang cerah" sekaligus mencantumkan foto langit yang memang sangat cerah dikota nya saat itu.
Tanpa dia sadari, aku tertatih mengumpulkan serpihan hati yang telah hancur, sendirian.
15 Desember 2019
Pada hari H pertemuan kami yang sudah banyak terdengar dari pihak keluarga, akupun telah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan2 yang akan dilontarkan diatas hatiku yang masih basah tersayat oleh luka.
Semua orang yang mengetahui janji pertemuan kami, menanyakan padaku dengan pertanyaan yang sama.
"Tya, mana? Katanya hari ini mau ngenalin calon nya ke keluarga besar?"
Kuberikan kepada mereka senyuman ikhlas dan tulus, serta menjawab.
"Hehe iya belum jadi, maaf ya. Doakan yang terbaik saja. In syaa Allah"
Tidak mudah menjawab dengan kalimat seperti itu, karena mereka tidak tau hancurnya aku setiap ada yang bertanya tentang kedatangan Calon yang telah aku nantikan.
Tidak mudah berperan sebagai wanita yang terlihat tegar seperti itu, namun harus aku lakukan, aku tidak ingin berbagi kesedihan dengan orang yang semestinya kubahagiakan.
Biarlah kesedihan hanya berpihak kepadaku, dan izinkan aku untuk tetap bisa membuat orang2 terdekatku tetap bahagia dan tidak perlu mengetahui apa yang kurasakan.
Namun, tidak sepenuhnya aku diam.
Mama adalah satu2nya orang yang kuceritakan tentang perjalanan cintaku yang terlanjur kandas.
Dengan isak tangis, kutumpah ruahkan segalanya dihadapan mama.
Aku tidak mampu untuk menahan diri, dan mama adalah obat penenang ku saat itu. Mama mengatakan :
Mama : Yang sabar ya tya, semua sudah Allah atur.
Istighfar ya, Istighfar ...
Astagfirullah, Astagfirullah, Astagfirullah ...
Maafin tya ma, maafin ...
Sambil nangis, aku tertidur untuk melupakan sejenak badai yang sedang terjadi di perjalanan cintaku...
Kulalui hariku seperti biasa, lambat laun aku mulai terbiasa.
Meski masih tersisa rasa sakit yang tertinggal dihati, namun aku harus tetap menjalani hidupku.
Hingga pada saat Hari pergantian tahun pun terlewati, hanya 1 harapku, semoga aku tidak akan pernah mengalami hal serupa lagi, karena ini sangat menyakitkan.
Dear Nazril, Akan kurawat luka di hati ini seorang diri hingga ia sembuh dan mampu mencinta lagi.
Akan ku kumpulkan kembali benih2 cinta yang telah aku berikan namun akhirnya engkau campakkan kembali padaku, kukutip semuanya dengan tangan terbuka.
Kelak hatimu sudah tertambat dengan hati yang lain, aku harap hatiku juga telah sembuh saat itu, agar ia tak merasakan perih lagi.
Goresan luka yang masih basah di hati ini, cukuplah aku yang rasakan.
Dear Hati, Sembuhlah wahai patriot tubuhku, kita sudah sama2 berjuang untuk terus bertahan sejauh ini, aku tidak tahan melihat mu terlantar seakan sudah tidak mampu untuk sembuh lagi wahai hati.
Bangkitlah, aku berjanji, tidak akan kubiarkan lagi engkau berdarah karena telah mencinta dengan salah.
Minggu, 12 Januari 2020 , 20.20 PM
Hatiku semakin hari semakin membaik, Alhamdulillah.
Kalimat penyemangat pun sering ku ucapkan pada diri sendiri, bahwa SIAPAPUN YANG DITAKDIRKAN UNTUKKU, PASTI AKAN KEMBALI MESKI SEJAUH APAPUN IA PERGI, NAMUN JIKA IA TAK KEMBALI SEKALIPUN, BERARTI ITULAH YANG TERBAIK.
Ingatlah, Allah adalah sebaik2 perencana.
Aku tidak ingin terlalu tergesa2 untuk kembali membuka hati, biarlah semuanya berjalan tanpa ada sisi pemaksaan, berusaha untuk meluapkan segala emosi dan marah yang sempat terjadi beberapa waktu lalu, dan ingin mengembalikan ekspetasi yang sempat kubangun dahulu, berharap semua berpihak kepadaku? Tidak, itu akan kembali menyakitkan.
Kuberikan ruang bebas untuk hati ini berhenti sejenak dan benar2 merasakan bahwa ada yang lebih penting dari pada perihal MENCINTA DAN DICINTA.
Yaitu, menghargai diri sendiri.
Pertemuan Dahi dan Sejadah di heningnya malam adalah saksi bisu, bahwa aku benar2 pernah mencintai seseorang sedalam itu, namun Kecewa kembali menyapa, seakan enggan memberikan kebahagiaan untukku saat itu.
Mungkin nanti, sebentar lagi.
Derai air mata yang membanjiri hari2 ku kemarin, tak mampu kuhitung, namun ku yakin Allah 'Azza Wa Jalla akan menggantikannya dengan hal yang sangat berarti untukku kelak.
Dengan siapapun nanti aku bertemu, aku harap ia adalah sosok yang mampu menjaga hati ini, dan tidak pernah mengecewakannya.
Dengan siapapun nanti aku bersanding di hari penantian, aku ingin, ia adalah seseorang yang bisa menerima bahwa aku adalah si Rewel tukang ngambek, yang banyak maunya dan terkadang menjengkelkan.
Namun untuk menutupi segala kekurangan itu, selalu terselip cinta dan rasa sayang yang teramat besar untuk seseorang kelak, yang akan bersama denganku di sisa waktu hidupku.
Harap dan Do'a ku :
Ia yang akan melihat bagaimana rempongnya aku ketika ingin menyiapkan sarapan, berharap bisa selesai sebelum ia bangun dari tidurnya...
Ia yang tau bagaimana sifat asli ku ketika aku sedang dilanda Moody-an ...
Ia yang akan menemani sehat dan sakitku dan selalu mau menjaga dalam kondisi apapun itu...
Ia yang mau jadi pendengar yang baik disetiap keluh kesahku ...
Ia yang tidak akan pernah lelah mengajariku dan membimbing ke Jalan Allah, semakin dekat dan terus mendekat ...
Semoga, dia yang selalu aku minta pada Sang Maha Kuasa, akan diperkenankan bertemu denganku pada waktu yang telah Allah tentukan .
Dia, yang entah siapa dan dimana saat ini, semoga selalu diberkahi dan di lindungi dari marabahaya sampai nanti kita bertemu.
Aku merindukannya, dan kutau, ia juga merindukanku.
Biarlah untuk saat ini, Doa yang kulangitkan dan doa yang Ia langitkan saja yang bertemu.
Jiwa dan Raga Kami akan menyusul, serta hati yang sudah siap kuberikan seutuhnya pada Dia yang berhak memiliki.
Ya Rabb, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Tidak henti2nya aku bersyukur atas segala ujian yang Engkau berikan padaku, atas tanda Rasa Sayang Mu pada seorang Hamba.
Kini, kututup cerita Indah ini, disudut kamar ternyamanku, aku mengetik kata demi kata untuk menyelesaikan cerita ini dan dengan senyuman tipis sekaligus mengingat kejadian2 selama beberapa tahun yang lalu yang telah aku tuliskan hampir semuanya di Blog ku, dari Part I hingga part V ini.
Begitu banyak kekurangan dan kesalahanku, aku mohon maaf untuk semuanya.
Kuberikan cintaku saat ini hanya pada Allah Ku, dan pada kedua orangtuaku yang telah merawatku hingga aku bisa seperti sekarang ini.
Terimakasih sebanyak2nya untuk semua Sahabatku yang sangat aku sayangi dan cintai, yang selalu bisa jadi pembangkit mood ku ketika aku sedang down.
Terimakasih untuk para meme's creator yang telah memposting hal2 yang absurd but its so funny, right?
And the last one, thanks for Dating App, udah sempat mempertemukan aku dengan kebahagiaan sesaat, and I used to so happy you know hehe
Okay, Jika Allah 'Azza Wa Jalla mengizinkan aku untuk tetap menulis di Blog Amatir ku ini, In syaa Allah kita bertemu lagi di kisah yang berbeda dan I hope semua berakhir dengan Happy Ending ever.
Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah 'Azza Wa Jalla, dan di permudahkan segala urusannya, Aamiin Allahumma Aamiin.
Barakallahu Fiikum❤
HIJRAH CINTA BY TYARABELLIA
Nga sabar nunggu next story'🤗🌹
BalasHapus