Part III

Aku telah menghabiskan 21 tahun tinggal di Indonesia.
Aku tinggal 11 tahun di Pangkalan Kerinci, Riau.
Dan 10 tahun terakhir sebelum aku Hijrah ke Malaysia aku tinggal di Medan.
Kini aku memutuskan untuk Hijrah ke Negri Jiran.
Sebenarnya kehidupanku di Medan saat itu sudah banyak perubahan karena aku memulai untuk Hijrah dalam arti lebih menutup diri dan memperdalam Ilmu Agama, tetapi aku harus tetap Berangkat ke Malaysia karena alasan2 tertentu.
Hampir 3 bulan sudah aku pertimbangkan sebelum akhirnya aku memutuskan untuk Hijrah ke Malaysia, karena aku harus mempersiapkan diri untuk berpisah dengan kedua Orang Tuaku dan Adik2ku.
Ku mantapkan hati, dengan meminta petunjuk dari Nya, agar kali ini aku tidak salah langkah.
Tiba saatnya pun datang, hari dimana keberangkatanku, dengan perasaan campur aduk, karena harus meninggalkan Tanah kelahiran untuk waktu yang cukup lama (mungkin). Dan ini pengalaman pertamaku merantau sangat jauh dan pergi seorang diri. Sebelumnya aku juga pernah pisah dengan orangtua tetapi masih dalam hitungan bulan dan masih di Indonesia.

Dan pada akhirnya aku telah di Malaysia sekarang, sudah hampir 1 tahun aku tinggal disini.
Banyak air mata yang telah kuteteskan di bulan pertama saat aku sudah tinggal di Malaysia, aku merasa sangat sedih, aku rindu orangtuaku, aku rindu sahabatku, aku rindu semua tentang kehidupanku di Medan.
Setiap malam aku hanya berdoa agar hatiku kuat menghadapi semua ini, aku berdoa agar aku bisa menjalani alur hidupku yang telah diatur ALLAH SWT seindah mungkin.
Untungnya aku tidak benar2 sendirian disini, ibu ku pun sudah lama tinggal disini, ia menikah dengan orang Asli Melayu dan memutuskan untuk menetap di Malaysia.
Aku merasakan banyak perubahan lifestyle selama disini, karena walaupun masih sama2 Asia, tetapi banyak perbedaan antara Indonesia - Malaysia .
Dimulai dari cara berpakaiannya, jarang sekali kudapati wanita memakai jeans ketat di sini, kalaupun mereka memakai celana, bisa dipastikan celana itu longgar seperti kulot. Tidak seperti di Indonesia ya, jika tidak ketat, bukan celana namanya, terkadang miris juga melihat wanita yang memakai celana panjang tetapi ketat dan kuncup padahal memakai hijab.
Nah di Malaysia, jeans cuma untuk lelaki, tetapi bukan berarti tidak ada wanita yang tidak memakainya, ada juga, tapi tidak banyak, dan tidak ketat. Normal saja, masih kelihatan ada space , dan enak dipandang.
Trus aku juga jarang sekali mendengar bunyi klakson disini, sekian bulan aku tinggal disini, cuma beberapa kali kudengar beberapa mobil atau kendaraan lainnya membunyikan klakson, dan itu sangat nyaman sekali. Tidak ada keributan yang huru hara di perjalanan, saatnya macet ya macet, tidak ada aksi menyerempet dan berusaha untuk jalan deluan, disini semua terkesan teratur, maupun itu kendaraan pribadi atau angkutan umum.
Dan ku akui, Negara Malaysia sangat bersih.
Jarang kulihat ada sampah di Jalanan, bahkan di sungai pun jarang. Mungkin kelak Indonesia bisa mencontoh Negara2 seperti ini untuk Memajukan Indonesia sendiri ya. In Syaa Allah
Tetapi, aku terlahir sebagai orang Indonesia, segimanapun macetnya Medan dan banyaknya angkot bersliweran di jalan raya, aku tetap merindukan keadaan itu saat aku sudah di Malaysia. Aku bahkan rindu di geber2 becak karena berusaha nyalip hahahaha.
Kembali lagi ke cerita Hijrah ku, tidak banyak kegiatan yang aku lakukan selama di Malaysia, aku kebanyakan melewatkan hari2ku dirumah saja, sesekali berpergian sama beberapa keluarga yang sudah stay disini juga.
Aku juga tidak punya teman disini, maksudnya teman yang bisa kuajakin ngobrol atau sekedar ngopi bareng, tidak seperti dimedan, aku punya sahabat yang senantiasa mau kuajak pergi jika aku merasa bosan.
Terkadang, dirumah seharian pun tidaklah menyenangkan, walaupun ada paket internet unlimited, wifi pun ada, makanan juga tersedia dirumah, tapi semua itu tidak semenyenangkan yang kubayangkan. Aku butuh hiburan lain, bukan sekedar online di sosial media. Aku butuh berinteraksi dengan manusia di luar rumah, aku gak mau terlihat seperti kurang pergaulan, tetapi sepertinya disini memang sudah biasa seperti itu, tidak ada istilah tetanggaan. Semua terkesan "siapa lu siapa gue". Apalagi aku tinggalnya di Flat, bukan di Komplek perumahan, ya semakin tidak ada harapan untuk saling mengenal satu sama lain.
Disini juga kalau mau pergi ke mall atau kemana gitu, ga segampang dimedan yang bisa naik angkot kemana2 , atau naik ojek, atau becak yang pastinya semua itu murah. Lah disini? Jarak mall nya jauh2, serasa balik kampung, trus ditempuh naik KTM gitu. Ada sih grab car, tapi muaaahaallll , bisa sampe RM150 sekali jalan, atau setara hampir 500 ribu. Di medan udah bisa biaya makan sebulan tuh wkwk.
Jadi karena situasi yang tidak memungkinkan seperti itulah makanya aku memutuskan untuk sesering mungkin diam dirumah aja. Ya sekalian belajar berintropeksi diri, mungkin ini cara ALLAH SWT untuk menghindarkanku dari langkah2 yang gegabah, dengan cara Menuntunku ke Malaysia, dan memberikanku ketenangan yang HQQ .

Waktu terus berjalan, tidak terasa sudah 7 bulan lamanya aku stay di Malaysia, akupun sudah lancar dan pede berbicara dengan orang Melayu asli, logat ku berbicara sudah mengikuti mereka, karena setiap hari kudengar abak (suami ibu ku) berbicara dirumah menggunakan bahasa Melayu, mau tidak mau semua terekam di ingatanku dan akupun terbawa arus mengikutinya.
Aku senang berada di Malaysia, walaupun sesekali aku menangis ketika ingat kampung halaman, tapi aku ikhlas menjalani semuanya, demi kebaikan.
7 bulan berlalu, aku hampir tidak pernah lagi berkhayal memiliki kekasih , karena pada saat itu aku benar2 fokus untuk terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Singkat cerita, terjadilah hal2 yang tak ku duga.

Ada sosok 2 pria yang mengaku mengagumiku, aku bahkan hampir tidak percaya. Kenapa? Karena aku tidak aktif berbaur selama di Malaysia, so dari mana bisa ada yang naksir aku? Mereka adalah pria yang berkerja di Mart dekat Foodcourt abak  berniaga. Mungkin mereka selama ini memata2i ku jika aku sedang berada di kedai abak. Hehe
Aku tau akan hal ini dari teman ibuk ku yang menyampaikan kepadaku bahwa si ZM dan si IA menanyakan kabarku dan ingin berkenalan.
Ketika mendengar akan hal itu, aku hanya membatin dalam hati "astaga, apa lagi ini?"
Aku tidak antusias menanggapi semua ini, karena kupikir "alah, palingan cuma bercanda. Kan biasa kalo cowo bercanda kaya gitu" , aku tidak ambil pusing sama sekali.
Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Rumah tante ku yang berada di Kuala Lumpur, aku ingin menginap disana selama seminggu, karena aku bosan berada di rumah ibuk ku yang ada di Sepang.
Sepang - Kuala lumpur tidak terlalu jauh, sekitar 1 jam ditempuh melalui jalan Tol. Jadi aku bisa bolak balik semauku jika aku merasa bosan.
Sesampainya di Rumah KL, rutinitas ku tidak banyak berubah, aku hanya berdiam diri di rumah, sesekali ikut membantu tanteku menjalani bisnis Ice Cream Malaysia Homemade nya (kebetulan dia memang sudah menjalani bisnis ini cukup lama), ya hiburanku palingan cuma sebatas bermain bersama anak2nya, tanteku punya 3 anak perempuan yang masih kecil2, merekalah yang menghiburku selama aku menginap di rumah tanteku.
7 hari berlalu, tanteku bilang "tak payah balik la, duduk kat sini je bantu tante buat Ice Cream. Kat sana pun tya tak buat keje kan?". Yg artinya " gak usah pulang la, disini aja, disana (sepang) pun tya gak ada kerja kan?".
Tapi aku menolak, karena aku bosan. Aku ingin ke Sepang saat itu, aku memang pembosan, jika sedang di Sepang aku ingin ke KL , jika sedang di KL aku ingin balik ke Sepang. Ribetnya diriku ini hahaha...
Berulang kali tanteku memohon agar aku gak usah pulang dulu, tetapi aku tidak bisa, aku ingin pulang, walaupun di Sepang membosankan, sendirian dirumah karena abak dan ibu ku kerja sampai sore, tetapi di Sepang aku punya kamar sendiri yang aku bebas mau ngapain aja, mau nyanyi, selfie, nari2, jerit2, nelfon berjam2 ataupun mau tidur seharian, bebassss. Beda ketika di KL, tanteku dan suaminya tidak kerja, mereka bisnis online dan tidak perlu keluar rumah, dan otomatis mereka 24 jam berada dirumah, dan aku tidak mungkin berdiam diri dikamar tanpa interaksi dengan mereka. Aku juga tipe orang yang tidak nyaman berbagi kamar dengan orang lain (beda kalo udh nikah ya hehe), selama aku di KL , aku tidur dikamar anak2nya tanteku, walaupun mereka masih kecil, tapi tetap saja aku risih, dan merasa terintimidasi karena tidak punya ruangan private hahaha
Perdebatan antara aku dan tanteku pun disudahi dengan menyetujuiku untuk pulang ke Sepang pada hari itu , dengan syarat minggu depannya aku dijemput lagi untuk menginap dirumahnya lagi.
Ku setujui permintaannya. Deal..
Sesampainya di Sepang, aku tidak langsung pulang ke Flat, aku minta di antar ke foodcourt untuk menunggu abak dan ibu ku pulang kerja, karena mereka selalu singgah ke foodcourt sepulang dari tempat kerja masing2.

Aku merasa haus, pergilah aku ke Mart depan foodcourt dengan niat mau beli minum dan makanan untuk menemaniku selama aku menunggu Abak dan ibu ku datang.
Di Mart, kudapati 2 pria yang pernah diceritakan teman ibu ku itu sedang sibuk berkerja, tidak banyak yang kulakukan, aku pergi ke chiller untuk melihat minuman apa yang ingin kubeli, dan aku beranjak ke rak roti untuk mencari roti.
Setelah sudah mendapati apa yang kumau, aku ngantri di Kasir , ketika giliranku , ada sedikit percakapan antara aku dan Kasir (cowo), kebetulan aku sudah kenal baik dengan Kasirnya karena aku sering belanja di Mart tsb.

Kasir : eh Tyara, ini aja tyara? (Nunjuk barang2 yang hendak ku beli)

Me : iya bang ini aja (sambil sibuk buka dompet)

Kasir : Tyara, ada yang naksir tuh..

Me : Ha? Maksudnya?

Kasir : (teriak manggil nama orang), trus teriak sambil ngomong "ini tyara, kemarin nyariin tyara"

Me : eh apasih? Udh bang, berapa semuanya? Nih duitnya.. (berusaha untuk tidak terpancing kejahilan mereka)

Kasir : oh iya iya (sambil ketawa cengengesan)

Selesai pembayaran, aku langsung balik ke foodcourt, dan memikirkan kejadian di foodcourt tadi.
Tidak lama kemudian, yang ditunggu2 pun datang, abak dan ibuk ku pulang, seperti biasa, kami menghabiskan sisa sore itu di foodcourt, sambil minum teh dan makan gorengan, diselingi dengan cerita2 lucu, lalu pulang ke flat dan aku langsung mengunci diri dikamar setelah sekian lama tidak menyendiri di kamar haha
Keesokan harinya, aku kembali ditinggal sendirian di Flat, hari itu semua bahan makanan tidak ada di rumah, stok makanan ringanku yang selalu aku beli untuk persediaan di kamar pun tidak ada, padahal saat itu aku sedang lapar. Dalam kondisi belum mandi, aku pergi jalan ke Mart untuk beli bahan2 makanan , kebetulan di Mart itu pun tersedia sayuran dan ikan fresh, aku berniat untuk masak. Sesampainya di Mart, lagi2 aku bertemu 2 sosok yang pria itu, kudapati mereka bisik2 ketika aku hendak memilih2 sayuran, mereka berusaha tertawa tanpa sepengetahuan aku tapi gagal karena aku menoleh ke mereka saat mereka ketawa dan saling tolak menolak, entah apa yang mereka bahas, aku tidak perduli. Selama aku tidak mendengarnya, itu bukan urusanku.
Ketika selesai belanja dan bergegas untuk pergi, salah satu dari 2 pria tadi itu memanggilku, sontak aku berbalik arah :

ZM : tyara, tunggu.

Me : ya?? Kenapa ya? (Bingung)

ZM : darimana?

Me : flat.

ZM : boleh minta whatsappnya?

Me : oh sorry ga pakai whatsapp (lalu aku pergi begitu saja)

ZM : tyara... tyara... (berteriak memanggilku)

Me : (terus jalan tanpa menghiraukan panggilannya)

Saat aku terus berjalan, kudengar suara beberapa temannya tertawa dan ada yang bilang :

IA : sudahla, besok kan jumpa (lalu melanjutkan tertawa).

Padahal aku punya whatsapp, tapi aku tidak ingin memberikannya, aku tidak berminat mengenalnya, aku juga tidak ingin chattingan dengannya, intinya aku tidak mau memberikan whatsapp ku jika untuk hal yang tidak terlalu penting.

Aku tidak tau harus belanja di mana lagi, itu satu2nya Mart terdekat dari flat tempat tinggalku. Sedangkan aku sudah malas untuk datang ke Mart itu. Aku malas meladeni mereka yang aku sendiri pun tidak tau apa tujuannya dan kenapa seperti itu kepadaku, setiap aku datang pasti semuanya langsung bisik2, ada yang tertawa pelan2, ada yang pura2 nyanyi kuat2 dengan judul lagu cinta2an, ada yang senyum2 padaku, dan aku tau, itu ada sebabnya. Karena seketika mereka tau aku sedang di Mart, semua pada berubah, yang tadinya sibuk kerja, ketika melihatku jadi salah tingkah semua.
Dengan terpaksa sekali aku tetap harus balik ke Mart itu jika ingin membeli sesuatu.
Akupun menceritakannya pada ibuk ku, ibuk ku tidak banyak tanggapan, dia bilang itu biasa, mungkin cuma bercanda dan ingin kenal.
Tapi bagiku itu sangat menggangu, aku risih.
Pernah juga saat aku bayar di kasir, eh kasirnya bukannya langsung hitung barang yang mau kubayar tapi malah ambil hp, buka kamera, trus hadapin kamera ke aku, sambil ngomong "ini dia tyara, hai tyara, gimana kabarnya blaa blaa blaa...."
Astagaaaaaa, dia nge videoin aku tanpa izinku, seketika aku ingin marah, tetapi itu tempat umum, aku yang malu jika aku marah dan menjadi bahas tontonan gratis bagi orang yang sedang berada di Mart itu.
Aku cuma bisa bilang "eh apasih, udah lah cpt hitung ini" sambil berusaha memalingkan wajahku agar tidak tertangkap kamera . Tapi kuyakin, muka ku sudah terekam setidaknya beberapa detik.
Mukaku memerah dan berubah menjadi raut wajah yang super duper mengerikan, aku masih menahan emosi ku. Sejak saat itu, aku jarang ke Mart tsb, jika aku memerlukan sesuatu aku menunggu ibu ku pulang dan menyuruh ia yang pergi ke Mart.
Ada sekitar 1 bulan aku tidak belanja ke Mart, tetapi masih sering lewat di Mart, dan aku berharap mereka mengerti bahwa aku tidak suka atas perlakuan seperti itu walaupun itu hanya bercanda.
Setiap aku menyuruh ibu ku utuk membelikan sesuatu di Mart tsb, sepulangnya pasti ada saja kalimat2 yang disampaikan ibu ku padaku . Seperti :
"Eh tya tadi si ZM nanyain tya"
"Tya, si IA nyariin tya , dia bilang kok ga pernah belanja lagi"
"Tya , si ZM minta whatsapp katanya"
Dan masih banyak lagi.
Aku cuma mendengarkan apa yang disampaikan ibu ku dan berlalu begitu saja, tidak kurespon, aku malah mencari pembahasan lain.
Entah mengapa aku malah ilfeel. Mungkin terkesan angkuh, tapi aku memang malas menanggapinya.
Bayangkan saja, jika aku merespon nya, pasti semuanya berlanjut , pasti nanti ujung2nya ada yang baper. Karena aku pernah baca kalimat
"Tidak ada hubungan pertemanan antara lelaki dan wanita yang berjalan tanpa adanya rasa suka diantara keduanya"

Intinya, ketika kita berteman dekat dengan lawan jenis, maupun itu sahabatan udah 10 tahun, pasti salah satunya ada yang cederung punya perasaan sayang, perasaan suka dan tidak ingin kehilangan.
Dan itu terbukti , sudah banyak yang mengalaminya termasuk aku sendiri. Sudah ku ceritakan di Blog sebelumnya tetapi kuhapus tanpa alasan (please jangan kepo hahaha).
That's why aku males untuk memulai menjalin hubungan maupun itu hanya sebatas pertemanan atau perkenalan dengan lawan jenis, karena aku tau betul arah dan tujuannya kemana. Semua akan berujung dengan merasa nyaman dan jatuh cinta.
Cuma ada 2 kemungkinan, bahagia setelahnya atau malah menjadi malapetaka karena hanya dianggap sebagai teman chattingan.
Sudah kuprediksi semuanya.
kalian boleh menganggap aku angkuh, sombong dan sebagainya. Tetapi kalian harus baca dulu sampai habis, karena akupun tidak mengerti kenapa pada akhirnya aku melemah diatas kuatku.

Cerita diatas, aku terlihat begitu kuat dan tegas menyikapi perasaanku bukan? Aku banyak belajar dari pengalaman yang telah menghancurkan hatiku.
Tapi entah mengapa, aku melalukan kesalahan yang sama .
Pada hari itu, aku kembali belanja ke Mart setelah sekian lama tidak , dan yang terjadi :

ZM : tyara..

Me : (noleh) yap???

ZM : memang betul gak mau ngasih nomor whatsapp ya?

Me : (diam seribu bahasa)

ZM : kenapa?

Me : (diam dan terus menyibukkan diri melihat barang yg ingin dibeli)

ZM : yaudahla kalau gak kasih. Tyara mau beli apa?

Me : udang (asal sebut)

ZM : oh yang ini aja tyara, ini udangnya besar, lebih enak.

Me : gak usah, ini aja (milih udang kecil)

ZM : untuk dimasak apa emangnya?

Me : utk diblender dan dijadiin bumbu nasi goreng.

ZM : oh yaudah itu enak juga kok. Ini plastiknya tyara..

Me : (pergi meninggalkan dia yang masih ingin berbicara padaku)

Selesai semuanya, aku pulang dan merasa deg2an, apa yang terjadi barusan? Aku merespon omongannya. Kok bisa? Dan tiba2 aku kasihan kepadanya karena kulihat dia sangat berniat untuk berteman denganku.
Dalam hati "apa salahnya ku berikan saja nomer whatsappku".
Tapi aku tidak akan memberikannya langsung, aku malas berinteraksi langsung kepadanya, karena disana sangat banyak temannya, pasti bakalan heboh kalau ada yang tau aku memberikan no ku padanya.
Lagi2 aku menghandalkan ibu ku sebagai perantaranya, sesampai di flat, kudatangi ibu ku, keceritakan kejadiannya, ku catat no whatsappku dan kuberi tugas ibu ku untuk memberikannya pada si Pria A tsb, dengan catatan , berikan kertas yg berisi no ku itu saat tidak ada satupun yang melihatnya. Semua harus tersembunyi. Saat itu ibu ku pasti merasa sebagai Agen FBI yang sedang menjalankan suatu misi besar HAHAHAHA
Tanpa banyak tanya, ibu ku langsung pergi ke Mart itu dengan berpura2 membeli garam , seniat itu kah? Hahaha
Sedangkan aku berdiam diri dirumah, deg2an apakah ibu ku berhasil menjalankan misi rahasia ini?
10 menit kutunggu, tak ada tanda2 ibu ku pulang, 20
menit .. 30 menit.. 45 menit.. akhirnya dengan nafas yang terengap2 karena lari2 ibu ku mendatangiku dan bilang "udah beres".

Lalu :

Me : ha? Gimana? Beres gimana?

Ibu : udah, udah aman. Kertasnya ibu salamin ke tangannya trus ibu bilang ini nomor tya.

Me : trus?

Ibu : ya dia langsung masukin kertasnya ke kantongnya sambil bilang makasih.

Me : jd ibu kok lama?

Ibu : kan kak tya suruh jangan ada yg tau, ya ibu tunggu waktu yg tepat lah biar jangan ada yg lihat.

Me : astaga haha yaudah makasih ya bu..

Setelah itu, aku hanya tinggal menunggu dia menghubungiku..
Tanpa waktu lama, hp ku berbunyi , kulihat ada notif whatsapp yang masuk, tapi bukan dari dia.
Kutunggu lagi, beberapa menit kemudian, ada notif lagi, dan kali itu pesan whatsapp yang dikirim dari nomer +60 (kode nomer Malaysia), berisikan :

 "Hai, Tiara kan?"

Kubalas :

"Bukan"

Dibalas :

"Eh salah?"

Kubalas :

"Iya bukan tiara tapi Tyara"

Lalu ia mengirim emoticon tertawa dan hanya ku read saja karena aku tidak tau mau balas apa.

Berselang beberapa jam setelah pesannya hanya ku read, tiba2 ada panggilan video masuk, kulihat itu dia, astagaaa , apa yang harus kulakukan? Aku masih terlalu kaku untuk video call dengan nya yang baru saja ku kenal. Kubiarkan saja panggilan video itu sampai pada akhirnya mati sendiri karena tidak kuangkat..
Aku tidak mengirim pesan apapun padanya, dan dia pun tidak mengirim pesan padaku..
Apa dia marah karena panggilan videonya tadi tak kuangkat? Aku tidak terlalu memikirkannya, kuras aku sudah baik dengan memberikan nomer ku padanya, tidak seharusnya dia marah hanya karena aku tidak mengangkat panggilan video darinya. Siapa dia? Kenapa dia marah? .

Pagi, saat aku bangun tidur. Kudapati nama nya yang pertama mengirim pesan whatsapp padaku. Isinya :

"Pagi tyara"

Dan kubalas :

"Iya pagi"

Begitu seterusnya, dia intens mengirimkan pesan , mungkin dia mencuri2 waktu untuk mengirimku pesan whatsapp walaupun saat jam kerja.
Tapi aku terkadang tidak bisa segera membalasnya, biar terkesan bahwa aku tidak mengharapkan pesannya, walaupun sebenarnya aku memang sama sekali tidak menunggu pesan darinya.

Singkat cerita, kami mulai berteman dan aku pun mulai merasa bahwa dia bukan orang asing lagi , aku mulai enjoy membalas pesan2 nya, ketika bertemu di Mart pun kami saling lempar senyuman walaupun tidak saling berbicara, ya sesekali menyapa sekedarnya saja karena aku tidak ingin teman2nya tau kalau aku sudah kenal dan komunikasian dengannya. Begitu seterusnya sampai akhirnya dia menyatakan perasaannya padaku. Terlalu tergesa2? Cinta memang begitu, datang disaat hati belum siap dan pergi disaat hati sudah siap.
Akupun terlalu naif rasanya jika mengatakan aku tidak ada rasa padanya, tapi jujur, aku tidak tau apakah aku sudah menyanginya? Atau aku menyukainya? Atau aku hanya nyaman? Atau yang paling buruk, apakah aku hanyak kesepian? Sehingga begitu dia memberikan sedikit perhatiannya kepadaku, aku langsung merasa bahwa aku cinta padanya?
Aku bingung pada saat itu, aku tidak tau harus jawab apa ketika dia memintaiku untuk segera memutuskan apakah kami bisa punya hubungan lebih sekedar dari teman?

ZM : tyara udah punya pacar?

Me : oh belum. Kenapa?

ZM : kenapa belum punya pacar?

Me : tidak apa2, hanya belum ada saja.

ZM : mau jadi pacar ku?

Me : ha? Kita kan baru kenal

ZM : aku sudah kenal tyara, tapi tyara gak kenal aku.

Me : sejak kapan?

ZM : sejak 3 bulan yang lalu, aku selalu mencari tau tentang tyara, aku nanya sama orang2, tapi setelah itu tyara pergi beberapa hari, kupikir tyara sudah pulang ke Indonesia.

Me : oh itu aku di KL.

ZM : ngapain di KL?

Me : nginap tempat tante.

ZM : oh gitu. Jadi gimana tyara? Diterima gak nih?

Me : aku gak tau, aku tidak selamanya berada disini (Malaysia), aku ada rencana pulang ke Indonesia akhir tahun, aku tidak yakin kamu bisa jalani hubungan berjauhan . (Sebenarnya ini hanya alasan agar kami tidak terikat hubungan pacaran)

ZM : oh itu bukan masalah, kalau mau pulang, silahkan, aku bisa datang nanti, aku menemuimu di Kampung.

Me : kapan?

ZM : setelah dapat libur kerja, tahun depan.

Me : gimana ya... (mencoba untuk mencari alasan lain)

ZM : kenapa? Mau kan?

Me : aku ga tau

ZM : jawab saja.

Me : aku ga tau mau jawab apa. Ini terlalu cepat

ZM : mau kan tyara?

Me : (dalam hati berkata, astagaaaaa ni anak kok maksa dijawab sih?)

ZM : tyara? Gimana?

Me : Iya, tapi aku gak mau ada yang tau tentang ini (karena aku tidak benar2 menerimanya, aku hanya menjaga perasaannya).

ZM : oke setuju, makasih ya.

Me : oke (dengan nada biasa saja)

Resmi lah kami berpacaran pada saat itu, walaupun aku tidak benar2 bahagia saat menerimanya, aku hanya tidak ingin membuatnya kecewa, karena aku paham betul bagaimana rasanya diabaikan oleh orang yang kita sukai. Aku pernah ada di posisi itu, sudah keceritakan di blog sebelumnya.
Hari demi hari kami jalani hubungan itu , biasa saja, tak ada yang istimewa.
Setiap malam sepulang dia kerja, dia selalu menyempatkan diri menelepon ku untuk bercerita2 santai sebelum kami sama2 pamit untuk tidur. Aku merasa nyambung saat ngobrol dengannya, maksudku selera humor kami selevel, dia tidak garing dan juga tidak berlebihan, masih dalam level aman untukku yang terkadang suka ilfeel kalo liat orang yang terlalu nyentrik. Tapi tidak dengan dia, belum ada masalah tentang itu. Hingga lambat laun perasaanku pun mulai muncul, aku mulai lebih sering menanyakan kabarnya, memerhatikan setiap gerak geriknya, membalas chat nya, dan aku pun sering mengantarkan makanan untuknya, hanya agar dia tidak makan sembarangan.
Yapp, aku adalah tipikal cewe yang sulit jatuh cinta, tetapi bila sudah jatuh cinta dan sayang pada seseorang, aku akan menunjukkannya dengan perhatian2ku untuknya dan memperjuangkannya apapun yang terjadi. Tapi sayang, sering kali aku dibuat kecewa saat aku sudah menitipkan hatiku sepenuhnya pada manusia.

Bukan pacaran rasanya jika tidak ada percekcokan antara sepasang kekasih, banyak hal2 terjadi setelah aku sudah merasa nyaman padanya. Mulai dari masalah orang ketiga, sampai dengan masalah janji bertemu.
Tapi aku, masih saja berbaik hati selalu mengalah demi menghindari pertengkaran yang hanya akan menguras tenaga. Aku cenderung ingin memaafkan daripada berada di suana yang tidak mengenakkan hati.
Aku terkesan sangat berhati besar walaupun sebenarnya aku tersakiti setiap kali kucoba untuk memaafkan, tapi aku ikhlas.

Janji bertemu pun sering gagal karena jam kerja dia yang sampai larut malam, sedangkan aku tidak diberi izin oleh abak bila berpergian tanpa abak dan ibu ku. Wajar saja, aku kan berada di Negara orang, aku tidak tau daerah2 nya, intinya aku hanya pendatang disini, lagi pula pun aku tinggal di flat abak dan ibu ku, jadi aku harus mengikuti peraturan mereka, mereka lah pengganti orang tuaku selama aku di Malaysia.
Terkadang aku bingung, setiap kali pacarku mengajakku bertemu, aku selalu tidak dapat izin, lalu aku harus bagaimana ? Aku khawatir pacarku menganggapku selalu menghindar dari nya.
Walaupun sebenarnya kami bisa saja bertemu saat aku belanja di Mart, tapi itu tidak resmi katanya. Ia ingin bertemu denganku yang benar2 ketemuan, duduk berdua, ngobrol dsb. Tapi apa boleh buat? Aku tidak ada ide untuk itu.
Hingga pada akhirnya, saat aku ingin pergi ke laundry yang kebetulan berdekatan dengan Mart tempat dia berkerja, dia pun menawarkan dirinya untuk menemaniku, dan aku pun menyetujuinya, tidak ada salahnya kan? Toh aku juga bakalan bosan nungguin laundry ku selesai.

Nb : Laundry di Malaysia tuh kita nyuci sendiri, kita masukin baju kedalam mesin nya sendiri, tambahkan sabun, keringkan dan lipat sendiri di tempat yang sudah disediakan pihak laundry.

Nah, saat itu aku izin ke abak untuk pergi laundry, sendirian. Tentu saja aku bilang sendirian, kalau dia sampai tau aku ditemani pacarku, tentu dia tidak suka.  Selama aku di laundry, abak dan ibu ku menungguku di foodcourt karena ada sesuatu yang akan dipersiapkannya untuk urusan kerjanya.
Yap, abak itu overprotektif, dia tidak menyukaiku dekat dengan siapapun yang bukan pilihannya. Dia tidak akan menyetujui kami jika dia tau hubungan kami. Berbeda dengan ibu ku yang memberikan kepercayaan padaku dan lebih easy going.
Ketika itu, aku sudah berada di Laundry , kebetulan cuma aku yang ada disana, karena mungkin sudah malam makanya sudah tidak ramai lagi. Ku masukkan lah baju2 kotorku kedalam mesin laundry serta menambahkan bubuk detergen dan mengatur timer nya sekitar 45 menit. Lalu aku duduk dan melamun.
Tidak lama kumenunggu, datanglah dia, pacarku. Lamunanku seketika buyar.
Dia tersenyum dan langsung duduk di bangku sebelahku, tapi berjarak. Aku bukan tipe wanita yang suka memamerkan kedekatanku dengan pacar, apalagi belum halal. Menurutku itu bukan hal yang pantas untuk di umbar.
Tidak banyak yang kami bahas, hanya percakapan2 ringan saja, tetapi ada 1 hal yang menarik dan untuk pertama kalinya bagiku ada yang berkata seperti itu padaku.

ZM : Kapan pulang ke Indo?

Me : akhir tahun mungkin, kenapa?

ZM : sama siapa tya pulang?

Me : sendirian aja sih kayaknya..

ZM : abang pun mau pulang tahun depan. Nanti kita jumpa di tempat adek ya (Medan).

Me : oh iya boleh

ZM : nanti kita tunangan ya, abang belikan cincin untuk adek.

Me : tunangan?

ZM : Iya.. mau kan?

Me : (diam seribu bahasa lalu mencari topik pembicaraan lain).

Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, cucianku tak kunjung selesai. Aku bahkan tidak sempat lagi melipat pakaianku. Tak mungkin aku memintainya tolong ikut serta untuk membantu melipat bajuku, tidak pantas rasanya.
Begitu pemberitahuan bajuku sudah kering, aku langsung memasukkan semuanya kedalam tas ku , aku sudah tidak bisa menunggu lagi, karena abak sudah menelpon ku berulang kali.

"Ayo kita pulang" seruku.
Dan pulang lah kami, dengan jalan beriringan. Tanpa bicara apapun.
Kulihat samar2 dari kejauhan ada yang berdiri tegak di perempatan jalan seolah menunggu kedatangan kami, berhubung lampu jalan lagi mati, otomatis jalanan pun sedikit redup, lalu berulang kali kucoba untuk mengetahui siapa itu tapi aku tidak bisa menerka2 karena mataku memang rabun.
Semakin mendekat, dan terus mendekat.
"Astagaaa, itu abak bang", bisikku.
Lalu ia hanya bilang "ya emang kenapa? Udh gpp santai aja".
Dia hanya tidak tahu betapa tidak sukanya abak melihatku dekat dengan siapapun.
Lantas, ku sahut pernyataannya tadi "eh kok gpp? Td tya bilang, tya sendirian ke laundry. Abang langsung jalan ke arah kanan aja nanti. Biar tya yang datangi abak" .
Tapi , mungkin dia ingin menunjukkan sisi gentleman nya sebagai lelaki, dia cuma jawab "gak lah, biarin aja. Abang antar sampai mobil abak".
Dan tak sempat ku jawab lagi, karena abak sudah disana. Abak pun bilang "darimana? Kata nak laundry. Apasal pi dua orang?" Katanya dalam bahasa Melayu.
Kami cuma diam dan tetap berjalan membuntuti abak yang sudah deluan pergi meninggalkan kami.
Karena melihat abak yang mukanya sudah kecut, akupun bergegas masuk ke mobil tanpa menghiraukan pacarku lagi, "makasih ya" kataku cepat.
Setelah berpisah, aku sudah duduk di dalam dan kulihat dari dalam mobil, pacarku jalan ke arah flat nya, aku sedikit lega, setidaknya abak tak memarahi kami didepan umum. Tapi nasibku siapa yang tau?
Abak menginterogasiku selama didalam mobil, mananyaiku tentang aku dan dia, mengapa kami bisa jalan berdua sepulang dari laundry ? Dan banyak lagi pertanyaan2 lainnya.
Untungnya saat itu ada ibu ku yang membantu menjawab semua pertanyaan abak.

Ibu : dorang tengah dobi lah bak, tak payah la membebel macam tu ! (Dia sedang laundy lah bak, gak usah lah marah2 seperti itu)

Abak : tyara cakap nak dobi sorang je, apa
sal budak tu kat situ? (Tyara bilang mau laundry sendirian, lalu kenapa anak itu ada disitu?

Ibu : dorang pun nak dobi kot. (Mungkin dia mau laundry juga)

Abak : ye ke tyara? (Benarkah tyara?) (Abak melempar pertanyaan padaku) 

Aku yang sedang terdiam pun, seketika bingung mau jawab apa.
" eee.. iya bak. Dia nak dobi , lepastu kita orang balek sama2" ( eee... iya bak. Dia mau laundry. Habis itu kami pulang sama2) jawabku dengan merasa bersalah karena sudah berbohong pada abak. Tapi semua masalah jadi clear berkat bantuan ibu ku. Thanks bu!!

Sesampainya kami di flat, akupun langsung mandi dan memutuskan untuk istirahat , biasanya aku selalu menunggu pacarku menelpon ku, tapi tidak untuk malam itu, karena aku sudah lelah.
Selesai bersih2, tidurlah aku, selama mencoba untuk tidur, handphoneku berbunyi dan terpampang jelas panggilan masuk dari dia pacarku, tapi sengaja tak kuangkat, karena aku sudah terlanjur ngantuk.

Tidak terasa, alarm pagi ku pun berbunyi, ku ambil handphoneku untuk mematikan alarm sekalian mengecheck siapa saja yang menghubungiku selama aku tidur semalam. Karena biasanya aku selalu bergadang, chat dengan teman2 ku yang berada di Medan dan video call dengan pacarku, tapi malam itu aku tidur cepat, sekitar jam 11 malam.
Ku buka whatsappku, isinya banyak.
14 pesan yang belum dibaca dan 2 panggilan tak terjawab, ku lihat satu persatu, semua isinya pesannya menanyakanku "udah tidur?" Haha
Dan 2 panggilan tak terjawab itu adalah dari pacarku dan sahabatku yang berada di Jakarta.
Tidak kubalas semuanya, karena pagi itu aku ingin beraktifitas dan tidak malas2an seperti kemarin, aku mau pergi ke foodcourt abak dan mencari kegiatan disana.
Setelah mandi dan berpakaian rapi, pergi lah aku berjalan kaki menuju foodcourt seorang diri. Dengan senyuman cerah dipagi hari, ku sapa setiap orang yang berpapasan denganku walaupun tidak saling kenal.
Senyumanku tidak pudar hingga aku sampai di teras foodcourt abak. Tetapi aku di buyarkan oleh sapaan cowo yang tiba2 senyum kepadaku dan mengatakan sambil berlalu "pagi tyara... sendiri disini?"
Akupun reflek menjawab "iya hehe".

Siapa dia? Dia adalah IA, teman kerja pacarku, yang selalu menggangguku dulu bersama ZM yang kini sudah menjadi pacarku
For your information guys, actually aku sempat berfikir IA lah yang akan mendekatiku, karena dia lebih sering menyapaku saat berpapasan. Oke lupakan

"Sial, kuota ku hari ini off" ucapku.
Aku harus beli voucher isi ulang untuk tetap bisa online.
Pergilah aku ke Mart tempat pacarku berkerja, sebenarnya hati ini sangat berat untuk melangkah, setelah kejadian malam itu, aku sedikit khawatir kalau pacarku merasa tersinggung atas sikap abak, tapi nasib baik berpihak padaku, pacarku sedang tidak berada di Mart, aku tidak melihatnya , barangkali dia sedang berada di store belakang Mart. Alhamdulillah, batinku.
Untuk membeli voucher, aku tidak harus mengantri, aku cuma butuh minta ke kasir dan langsung bayar.
Kebetulan pagi itu kasirnya adalah si IA yang menyapa ku saat di foodcourt tadi, dan karena suasana Mart tidak terlalu ramai, dia mencoba untuk membuka obrolan denganku.

Me : bang, topup u mobile RM 10 ye. (Bang, pulsa u mobik 10 ringgit ya)

IA : nih topup RM 10 nya (menyodorkan voucher)

Me : thanks. (Ngasih duit RM 50)

Aku menunggu kembalianku, tapi dia tidak terlihat seperti sedang ngambil uang kembalian, dia hanya memegang uangku dan memandangku seperti ada yang ingin disampaikan.
Ternyata betul ...

IA : kamu pacaran sama si ZM?

Me : ha? (Kaget)

IA : kenapa kamu mau sama dia?

Me : Maksudnya? (Masih kaget)

IA : Kamu sama aku aja . (Muka dia benar2 serius saat mengatakan itu)

Me : loh? Udah ah, mana kembaliannya?

IA : gak mau ya?

Me : kembaliannya dong tolong. Buru2 nih (padahal sama sekali gak buru2)

IA : nih (ngasih kembalian trus genggam tanganku lalu dilepaskan)

Muka ku sudah memerah, antara malu dan mau marah.
Berani2nya dia menyentuhku dan pegang tanganku tanpa izin.
Lalu aku langsung pergi cepat2 dari Mart itu.
Sesampainya di foodcourt, aku duduk dan terdiam mengingat kejadian barusan.
Aku ingat ketika dia menatap mataku penuh arti, tapi aku gak tau apa maksud dia berkata seperti itu. Dia dan pacarku kan berteman, kenapa dia melakukan semua ini padaku.
Sejak kejadian itu, si IA menjadi lebih sering mencuri kesempatan untuk ngobrol denganku jika aku sedang berbelanja di Mart mereka.
Tetapi dia sudah tidak berani kontak fisik denganku karena sikap dinginku kemarin.

Tiba2 aku ingin menanyakan pada pacarku, kenapa mereka tau tentang hubungan kami? Bukannya sudah janji tidak akan memberitahu siapapun?
Ku kurim pesan whatsapp padanya :

Me : bang, kenapa banyak orang yang tau kalau kita pacaran?

ZM : siapa aja rupanya?

Me : ibu yang sebelah kamar flat abang dan teman2 abang di Mart, semua tau.

ZM : iya abang yang bilang. Gpplah biarin aja mereka tau.

Aku gak tau harus marah, sedih atau senang. Satu sisi, mungkin dia tak ingin ada orang yang menggangguku, tapi di sisi lain, aku kecewa karena dia mengingkari janji untuk tidak memberitahu pada siapapun tentang hubungan kami.
Karena aku sedang  tidak ingin bertengkar, ku sudahi saja pembahasan tentang itu dan ku alihkan saja pembicaran ke topik yang lain.

Tidak banyak perubahan antara aku yang Jomblo dan aku yang mempunyai pacar saat itu.
Apakah mungkin aku sudah mati rasa?
Aku bahagia, tapi tidak sungguh2 bahagia.
Sepertinya aku hanya bahagia karena setidaknya aku tidak merasa kesepian selama di Malaysia.

Sejak kejadian itu, IA pun semakin sering mencoba untuk berinteraksi denganku walaupun cintanya secara tidak langsung sudah ku tolak.
Tetapi dia seperti tidak putus asa dan terus mencoba untuk mempertahankan saling komunikasi denganku, dia memintaku untuk menghubunginya melalui whatsapp , dia juga pernah mengajakku minum kopi di caffee yang  berada tidak jauh dari flat kami masing2.
Tapi aku menolaknya, kuperjelas sekali lagi, aku bukan tipikal wanita yang mudah untuk menerima ajakan lawan jenis, apalagi aku sudah punya pacar saat itu. Aku tidak mau berkhianat dan mengecewakan pacarku. Aku tidak ingin ada yang tersakiti, aku berusaha untuk membangun hubungan yang sehat dan damai.
Tetapi itulah cinta, disaat aku mulai menumbuhkan rasa padanya, saat itu juga lah untuk yang pertama kalinya pacarku mengecewakanku, dunia terasa gelap saat kudapati ternyata dia masih punya hubungan dengan wanita lain yang akupun tidak tahu itu siapa.

Hati wanita mana yang tak hancur melihat lelakinya bermesraan dengan perempuan lain?
Hati wanita mana yang mampu bertahan jika lelakinya berbagi hati ?
Hati wanita mana?

Aku tidak akan menuliskan disini bagaimana proses terbongkarnya kelakuan pacarku yang sangat menyakitiku saat itu, karena ada beberapa alur cerita yang cukup kusimpan sendiri dan menjadikannya pembelajaran untuk diriku sendiri pula.
Dan setiap wanita pasti punya feeling yang tepat jika mereka sedang di khianati.
Aku yang saat itu diperbudak oleh perasaan dan dibutakan oleh cinta, pun seolah ingin memaafkannya hanya karena ingin menjaga hatiku yang diam2 sudah mencintainya, tanpa ku sadar betapa bodohnya aku saat itu .
Dia tau, dia tau aku sudah mulai masuk ke dalam perangkapnya dan terjerat oleh cintanya, maka dari itu dia tidak panik.

Apa dia sudah lupa , bagaimana proses dia saat ingin mengenalku dulu?
Saat dia menggebu2 meminta nomer whatsaapku?
Saat dia menginginkanku menerimanya untuk menjadi pacarku?
Saat dia mengatakan ingin ikut menyusulku sepulangnya aku dari sini?
Saat dia berjanji untuk memberikanku cincin sebagai pengikat hubungan kami?
Apa dia sudah lupa?
Apa dia benar2 melupakan semua janji2 itu?
Atau itu semua hanya kepalsuan?
Hanya omongan manis semata?

Aku tidak bisa menjawabnya, dan aku pun tidak pernah mendapatkan jawaban darinya, walaupun sudah berkali2 aku bertanya padanya.
Yang ada hanya pernyataan2 palsu berikutnya, yang menyatakan :

Itu hanya temanku..
Aku benar2 sayang padamu..
Aku serius padamu..

Kalimat itu tak menggetarkan hatiku lagi !
Aku sudah tahu betul apa maksud dari semua ini.
Aku hanya peretas gundah nya di saat hubungan dia dan kekasihnya sedang tidak stabil.
Aku hanya pelampiasan.

Ya Rabb, hati ku patah lagi setelah sekian lama kusembuhkan seorang diri..
Ya Rabb, hati ku telah hancur kembali..
Ya Rabb, aku menitipkan hatiku pada orang yang salah..
Ya Rabb, maafkan aku..
Maafkan aku yang terlalu mempercayainya untuk menjaga hatiku tanpa sadar dia hanyalah manusia yang sama sepertiku.. Dan Engkaulah sebaik2 penjaga hati Ya Rabb..

Saat malam tiba, setelah berjam2 aku menangis , handphoneku kembali berbunyi.
Ku baca Pesan whatsapp darinya yang berisikan :
"Kita temenan aja ya".
Singkat, padat, dan tepat pada tujuan.
Aku sudah menangis sebelum aku membaca pesan nya itu, dan saat kubaca pesan itu, aku benar2 sudah tidak punya energi untuk kembali menangisinya.
Kurasa itu keputusan yang terbaik.
Aku tidak ingin menyakiti diriku lebih lama lagi, walaupun sejujurnya aku sudah sangat tersakiti pada saat itu.
Munafik jika kukatakan "aku baik2 saja", aku benar2 merasa kacau saat itu.
Pesannya hanya kubalas "iya, jaga diri baik2 ya".
Sungguh ironis, aku yang tersakiti, tetapi aku masih saja mengingatkannya untuk jaga diri.
Saat itu juga, aku memutuskan untuk tinggal dirumah tanteku yang ada di KL, agar aku tidak terlalu sering berjumpa dengan pacarku yang sudah menjadi mantan sejak malam itu. Kurasa dengan menghilangnya aku untuk sementara waktu , akan membuat keadaan jauh lebih baik. Khususnya keadaan hatiku.
Aku tinggal dirumah tanteku cukup lama, dan aku berencana untuk kembali ke Sepang seminggu sebelum kepulanganku ke Indonesia, yang saat itu sekitar 2 bulan lagi dari kepindahanku itu.
Cukup lama bagiku untuk move on, walaupun tak terlalu banyak moment kami bersama, tetapi terekam jelas dibenakku akan hal2 dan janji2nya yang sudah terlanjur diucapkannya.
Selama aku di KL, aku mencoba untuk mendekatkan diri lagi kepada Tuhanku, Tuhan pencipta seluruh alam. Yang mana hanya ia lah yang mampu membolak balikkan hati manusia .
Hubunganku kandas karena aku tidak melibatkan Mu Ya Rabb, aku terlalu jauh dari Rabb ku saat aku mendekat pada hamba Nya.
Bagaimana bisa aku lalai seperti itu?
Allah SWT telah mematahkan hatiku sebagai balasannya.
Aku ikhlas , aku ikhlas demi menjemput Ridho Tuhanku.
Tetapi aku berdoa, kelak Allah SWT menjatuh cintakan aku sejatuh jatuhnya pada lelaki yang mampu menjaga hatiku agar aku tidak merasakan kecewa seperti ini lagi.
Aku sudah selesai, aku tidak ingin diperbudak oleh perasaanku.
Aku membuat janji lagi yang sempat kulanggar pada diriku sendiri untuk tidak ingin mengenal kata "Pacaran" lagi, untuk kedepannya aku akan memakai proses Ta'aruf yang di anjurkan di Agama Islam. Mungkin Ta'aruf satu2nya jalan untuk menghindarkan aku dari jatuh cinta yang tidak halal untukku.
Mungkin ini sentilan kecil dari Allah SWT untukku, agar aku tidak terlalu mempercayai cinta semu sebelum Akad tiba.
Aku akan lebih menjaga hati, pandangan dan diriku.
Aku ingin mempersembahkan hatiku hanya untuk pasangan halalku kelak, dan mungkin butuh waktu untuk membuka hati kembali.

Bulan 12 telah tiba, tiket pulang ke Indonesia sudah ditangan, aku sudah kembali berada di Sepang selama 3 hari ini, tapi aku tidak pergi kemana2, aku sibuk di flat untuk packing segala sesuatunya agar tidak ada yang tertinggal.
Aku bahkan tidak makan sangkin antusiasnya aku untuk berangkat dan pulang ke kampung tercinta.
Semua keluarga di kampung sudah menanti kedatanganku, sama seperti mereka, aku pun tidak sabar untuk bertemu mereka, karena Keluarga adalah tempat ternyaman untuk kembali pulang.
Kini harinya telah tiba, aku akan pulang.
Aku akan meninggalkan Malaysia dengan segala kenangannya.
Kini Aku mengerti, untuk mencari suasana baru dan berusaha melupakan masalah yang lama, tak perlu Hijrah Negara, semua ada di hati kita masing2.
Tergantung kondisi dan bagaimana kita menyikapinya.
Toh, jauh2 pun aku pindah ke Malaysia, akhirnya kembali juga untuk mendapatkan ketenangan , yaitu keluarga. Satu2nya yang tidak akan pernah mematahkan hatiku. Aku yakin mereka senantiasa menjagaku dan akan membantuku menyembuhkan kekecewaan di masalalu. In Syaa Allah...
Dan pada akhirnya, aku selalu melibatkan Allah SWT disetiap urusanku, karena aku yakin hanya Allah SWT yang tau yang terbaik untukku.
Inilah HIJRAH CINTA yang sesungguhnya.
Mencintai Rabbku yang teramat demi menemukanmu wahai kekasihku yang sudah tertulis di Lauhul Mahfudz...

Bersambung..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Part V

Part I

Part II